Samarinda, VivaNusantara – Kasus pencabulan yang menimpa santri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Tenggarong Seberang bukanlah hal pertama. Rangkaian kasus serupa belakangan ini pun mencuat di berbagai daerah.
Peristiwa ini pun menyisakan luka pada korban sekaligus menimbulkan keprihatinan mendalam terhadap citra pesantren sebagai lembaga pendidikan agama. Ketua Pimpinan Daerah (PD) Wanita Islam Kukar, Nur Ilahiah, turut menyuarakan kegelisahannya atas rangkaian insiden tersebut.
“Dengan adanya kejadian ini, sangat berpengaruh terhadap keberadaan pondok pesantren di tengah masyarakat. Sedikit banyak, menimbulkan penilaian negatif dan ketakutan untuk memasukkan anak ke pesantren,” ujarnya saat dimintai tanggapan belum lama ini.
Sebagai sosok yang pernah menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, Nur Ilahiah memahami betul nilai-nilai luhur yang diperjuangkan lembaga tersebut. Namun, menurutnya, jika tindakan bejat seperti ini dianggap representasi pesantren secara keseluruhan, maka kepercayaan publik akan terus terkikis.
“Langkah penting yang harus dilakukan adalah melakukan sosialisasi bahwa yang terjadi itu hanya dilakukan oleh oknum saja. Masih banyak pondok pesantren yang berkiprah baik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kasus di Kukar kini sedang dalam proses hukum, dengan oknum pengajar berinisial MA telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, isu tidak berhenti di situ: intimidasi terhadap keluarga korban dan potensi adanya pelaku baru dari kalangan santri menjadi dinamika baru yang menambah kompleksitas kasus.
Penulis: Intan
Editor: Lisa