Samarinda, VivaNusantara — Di balik seragam barunya yang rapi, Irma (16) menyimpan kisah panjang. Sebelum diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 milik Pemprov Kalimantan Timur, ia sempat menghabiskan setahun hidupnya menjajakan kopi di pinggir jalan Kabupaten Berau. Kini, ia duduk di bangku kelas 1 SMA, mengenakan almamater, dan belajar informatika sebagai mata pelajaran yang menjadi favoritnya.
Irma merupakan satu dari 25 siswa SMA di SRT 58 yang mendapatkan fasilitas penuh dari pemerintah. Mereka tinggal di asrama berfasilitas lengkap, dengan empat orang per kamar dan kamar mandi pribadi di setiap bilik. Semua kebutuhan, mulai dari makan tiga kali sehari, dua kali camilan, hingga perlengkapan sekolah, disediakan secara gratis.
“Pagi, siang, malam selalu ada sayur dan lauk. Kalau nasi kurang, boleh tambah. Snack-nya dua kali, kadang kue, kadang gorengan isi sayur. Pokoknya cukup dan sehat,” katanya, Kamis (9/10/2025).
Irma tidak sendiri. Teman sekamarnya, Selia, sempat putus sekolah di kelas 11 di Berau dan bekerja di laundry sebelum akhirnya diterima di sekolah tersebut.
Saat ini, para siswa tengah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang diisi dengan materi dari Universitas Mulawarman, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Dinas Kesehatan Samarinda.
“Senang rasanya bisa sekolah lagi. Seru, apalagi teman-teman sekamar ramai, jadi nggak kesepian,” ujar Irma.
Kepala SRT 58, Rabiatul Adawiyah, menjelaskan bahwa sekolah ini menampung anak-anak dari berbagai kabupaten, seperti Berau, Kutai Barat, dan Kutai Timur. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga desil 1 dan 2 atau kategori miskin ekstrem.
“Anak-anak kami banyak yang berasal dari keluarga bermasalah secara ekonomi bahkan sosial. Ada yang lama tidak sekolah, ada yang pernah jadi buruh sawit, pekerja laundry, hingga anak jalanan. Tapi motivasi mereka tinggi. Mereka ingin mengubah hidup lewat pendidikan,” tutur Rabiatul.
Sebagai sekolah berbasis inklusi, SRT 58 memberi kesempatan bagi anak-anak yang sebelumnya tersingkir dari sistem pendidikan formal untuk memulai kembali. Saat ini terdapat 49 siswa yang diterima, diantaranya 24 siswa SD dan 25 siswa SMA.
Untuk jenjang SD, pembagian kelas dilakukan berdasarkan kemampuan, bukan usia. “Ada kelas kecil untuk anak usia 6–9 tahun yang belum bisa membaca, dan kelas besar bagi usia 10–12 tahun yang pernah sekolah tapi putus,” jelas Rabiatul.
Selain pembelajaran umum, setiap siswa juga mendapat pelatihan coding dan kecerdasan buatan (AI). Mata pelajaran ini dijadikan muatan lokal nasional untuk menggantikan pelajaran bahasa daerah.
Langkah tersebut, kata Rabiatul, merupakan upaya pemerintah membangun kesetaraan kompetensi digital di seluruh Indonesia. “Kita ingin anak-anak dari daerah manapun punya kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi. Semua guru juga dilatih coding dan AI,” katanya.
Pihak sekolah juga memastikan seluruh kebutuhan dasar siswa dipenuhi dengan standar yang ketat. Asupan gizi, misalnya, diatur langsung oleh Dinas Sosial agar anak-anak tumbuh sehat secara fisik dan mental.
“Makan tiga kali sehari dengan tambahan dua kali snack. Semua diatur agar kebutuhan gizi anak-anak terpenuhi. Ini instruksi langsung dari Bapak Mensos,” tegasnya.
Untuk memastikan program ini tepat sasaran, sekolah bekerja sama dengan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Proses seleksi siswa tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui verifikasi dan survei lapangan oleh petugas PKH.
“Kami ingin memastikan siswa yang masuk benar-benar dari keluarga miskin ekstrem. Karena itu, data diverifikasi lewat survei rumah. Kami ingin desil 1 dan 2 benar-benar jadi prioritas,” ujar Rabiatul.
Selain fokus pada pembinaan akademik, SRT 58 juga memperkuat hubungan emosional antara siswa dan orang tua. Komunikasi dilakukan setiap malam minggu melalui Zoom, terutama bagi keluarga yang tinggal jauh di luar Samarinda.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa