Samarinda, VivaNusantara – Pemerintah Kota Samarinda mulai memperluas layanan pencegahan penyakit di lingkungan sekolah. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), program pemeriksaan kesehatan gratis bagi siswa kini tidak lagi sebatas imunisasi, melainkan mencakup tes gula darah dan kesehatan gigi.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya mendeteksi sejak dini potensi penyakit tidak menular pada anak usia sekolah.
“Sekarang kita bersyukur sudah ada kegiatan cek kesehatan gratis. Pemeriksaan ini termasuk tes gula darah yang dulu belum pernah dilakukan,” ujarnya, Rabu (8/10/2025).
Tes dilakukan untuk siswa kelas 7 SMP hingga kelas 11 SMA. Menurut Ismed, kebijakan ini dirancang agar deteksi dini bisa dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi penyakit serius di masa dewasa.
“Dulu kegiatan penjaringan anak sekolah hanya fokus pada imunisasi. Sekarang disatukan dengan pemeriksaan kesehatan, termasuk cek gula dan kesehatan gigi. Jadi petugas Dinkes yang proaktif datang ke sekolah,” jelasnya.
Program tersebut dilaksanakan setahun sekali dan dikombinasikan dengan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Dari hasil pemeriksaan tahun ini, Dinkes mencatat karies gigi (gigi berlubang) masih menjadi masalah kesehatan tertinggi di kalangan pelajar.
“Hasil pemeriksaan yang paling tinggi itu karies gigi. Dan ini merata hampir di semua sekolah. Bukan hanya di Samarinda, tapi di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Meski temuan karies cukup tinggi, Ismid menilai kondisi kesehatan anak-anak di Samarinda masih dalam kategori baik. Namun, ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Dalam dua-tiga tahun terakhir ini, kondisi kesehatan masyarakat sangat terbantu dengan adanya kolaborasi lintas kegiatan, terutama lewat program Pro Bebaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi masyarakat juga berperan dalam menekan angka demam berdarah.
“Kasus demam berdarah memang meningkat, tapi alhamdulillah tidak ada KLB. Itu berkat kerja sama semua pihak, bukan hanya Dinkes,” kata Ismed.
Menurutnya, pola kerja kolaboratif menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Kesehatan itu tidak bisa berdiri sendiri. Semua harus bergerak dari hulu ke hilir. Saat semua sektor berjalan bersama, hasilnya akan terlihat, sama seperti saat kita hadapi Covid-19,” pungkasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa