Samarinda, VivaNusantara – Setelah sukses tahun lalu, Samarinda Cultural Festival (SCF) kembali dihelat tahun ini dengan skala yang jauh lebih besar dan muatan budaya yang lebih dalam. Bertempat di Rumah Adat Budaya Daerah Samarinda Jalan Kadrie Oening, festival ini akan berlangsung selama enam hari, mulai dari 22-27 Juli 2025.
Ketua Panitia SCF 2025 sekaligus Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Barlin, menyebut persiapan teknis sudah mencapai 95 persen. Ia memastikan, seluruh peserta dan lembaga adat yang terlibat sudah siap memeriahkan dan mengisi agenda festival tahun ini.
“Festival ini bukan sekadar perayaan, tapi juga bentuk nyata implementasi amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Tahun ini kita buktikan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan mandiri, tidak sepenuhnya bergantung dari pemerintah,” ujar Barlin, Senin (21/7/2025).
Tahun ini, SCF diikuti oleh 10 lembaga adat, naik drastis dari empat tahun lalu. Festival mengusung tema “Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat”.
Festival dimulai dengan warming up atau pemanasan, pada Selasa (22/7), yaitu workshop seni tradisional Sandima, bentuk sandiwara klasik khas Samarinda. Sebanyak 30 sekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dan SMK ikut ambil bagian.
“Narasumbernya adalah maestro-maestro Sandima yang telah puluhan tahun tampil di panggung lokal dan nasional. Setelah workshop, mereka akan pentas di hari Jumat dengan lakon ‘Kembalinya Sang Pangeran’, dan ini terbuka untuk umum, gratis,” jelas Barlin.
Kegiatan dilanjutkan dengan permainan rakyat, pada Rabu (23/7), melibatkan lebih dari 200 siswa SMP dan MTs se-Kota Samarinda. Mereka akan bertanding dalam enam cabang permainan tradisional. Menariknya, tahun ini partisipasi pelajar perempuan melonjak dua kali lipat dibanding tahun lalu.
“Ini kabar baik. Artinya, anak perempuan pun antusias melestarikan permainan rakyat. Kita bangga,” kata Barlin.
Acara pembukaan digelar Kamis (24/7), menampilkan dua gelar adat besar, gelaran adat budaya Banjar oleh Laung Kuning Banjar Samarinda (Ritual Ba’ayun Mulud, Basyair, Bapajin, Bakuntau, Bekawah)
Dijelaskan Barlin, Ba’-ayun Mulud merupakan tradisi keagamaan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, di mana bayi hingga orang dewasa diayun sambil dibacakan syair religius dan diiringi musik khas Banjar. Disusul dengan bankuntau (silat tradisional) dan bekawah, yakni memasak dan menyantap bersama makanan tradisi.
“Tradisi ini bukan hanya ditonton, tapi juga melibatkan penonton untuk menari bersama. Ada interaksi, ada pengalaman budaya yang tidak bisa dibeli,” ucap Barlin.
Sepanjang festival, pengunjung dimanjakan dengan pameran budaya, termasuk lukisan, alat musik tradisional, arsip budaya, senjata pusaka, dan buku-buku kebudayaan lokal. Pameran ini berlangsung penuh selama sepekan.
UMKM turut ambil bagian. Produk yang ditawarkan pun selektif murni karya budaya dan kuliner tradisional.
“Tidak ada pizza, rice bowl, atau makanan modern. Ini ruang untuk kuliner otentik Nusantara. Mulai dari makanan khas Kutai, Banjar, hingga Sunda akan hadir, bahkan sebagian akan dibagikan gratis pada pengunjung,” ungkap Barlin.
Pihak panitia juga memperkirakan, perputaran uang selama SCF dapat menggerakkan ekonomi mikro masyarakat.
“Satu pengunjung pasti mengeluarkan biaya: transportasi, beli makanan, belanja kerajinan. Kalau datang seribu orang saja per hari, bayangkan dampaknya bagi pelaku UMKM,” tambahnya.
SCF 2025 juga menjadi titik balik penting bagi lembaga adat. Menurut Barlin, lebih dari 50 persen dana kegiatan tahun ini berasal dari swadaya lembaga, bukan hanya APBD.
“Mereka bukan hanya tampil, tapi juga mendanai sendiri. Ini bukti bahwa kesadaran budaya mulai tumbuh. Kami hanya fasilitator, menyediakan ruang, listrik, air, sound system, dan Rumah Adat sebagai pusat aktivitas,” jelasnya.
Disdik Samarinda berharap festival ini terus menjadi agenda tahunan, bahkan melibatkan wisatawan luar daerah atau mancanegara.
“Tahun depan, kami ingin undang lembaga dari luar Kaltim, atau bahkan luar negeri. Kita ingin budaya Samarinda dikenal luas,” tutup Barlin.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa