Home DaerahKota SamarindaTak Sekadar Seremonial, Momen Pelepasan Siswa SMP 21 Jadi Pengingat Tantangan Pendidikan Masa Kini

Tak Sekadar Seremonial, Momen Pelepasan Siswa SMP 21 Jadi Pengingat Tantangan Pendidikan Masa Kini

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Sebanyak 290 siswa kelas IX SMP Negeri 21 Samarinda resmi dilepas dalam acara perpisahan yang digelar Selasa (20/5/2025). Sekolah ini berlokasi di Jalan Tongkol Kecamatan Samarinda Ilir.

Namun, acara ini tak sekadar menjadi momen perpisahan, melainkan juga pengingat bahwa dunia pendidikan kini dihadapkan pada tantangan yang semakin rumit, terutama di tengah pengaruh globalisasi dan berbagai persoalan sosial remaja.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, yang hadir dalam kegiatan itu, menekankan pentingnya kerja sama semua pihak dalam mendidik anak. Menurutnya, pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru atau ibu di rumah.

“Sampai kapan kita mengandalkan guru dan ibu saja? Pendidikan itu tanggung jawab bersama. Masa depan kita ditentukan dari situ,” ucap Saefuddin dalam sambutannya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan lewat sistem zonasi. Ia mendorong orang tua untuk aktif menyebarkan informasi pendidikan kepada tetangga dan lingkungan sekitar.

“Jangan diam. Ajak orang lain juga peduli pendidikan. Ini bukan cuma soal anak sendiri,” katanya.

Saefuddin turut mengingatkan soal bahaya penggunaan ponsel dan media sosial yang tidak bijak. Ia menilai, banyak masalah di kalangan remaja justru bermula dari hal-hal sepele yang dibesar-besarkan di dunia maya.

“Kadang niatnya main-main, tapi begitu dibagikan ke media sosial, masalahnya jadi lebih besar,” jelasnya.

Ia juga berpesan agar siswa menjauhi perundungan (bullying) dan menjaga sikap terhadap sesama teman. “Hargai temanmu, kalian masih punya perjalanan panjang ke depan,” tambahnya.

Kepala SMPN 21 Samarinda, Siswanto, menyampaikan bahwa masalah sosial di kalangan pelajar masih menjadi tantangan yang harus dihadapi sekolah. Karena itu, peran guru Bimbingan Konseling (BK) terus diperkuat, termasuk dengan sistem pemantauan kehadiran siswa.

Saat ini, sekolah memiliki lima guru BK yang masing-masing membina lima kelas. “Setiap bulan kami evaluasi. Kalau ada siswa yang bolos lebih dari tiga hari tanpa alasan, kami langsung tindak lanjuti, bahkan bisa sampai kunjungan ke rumah,” terang Siswanto.

Dalam menangani kasus pelanggaran, sekolah mengutamakan pendekatan mediasi antara siswa, korban, dan pihak sekolah, dengan melibatkan orang tua.

“Kami ingin menyelesaikan masalah dengan cara mendidik, bukan menghukum. Jangan sampai masalah di sekolah terbawa ke rumah tanpa penyelesaian yang jelas,” ujarnya.

Ia juga menyinggung insiden bentrokan antar pelajar yang pernah terjadi, yang umumnya berawal dari konflik di media sosial atau persoalan asmara lintas sekolah.

“Meski hanya terjadi sekali setahun, kami tetap serius menanganinya. Kami juga terus libatkan orang tua karena banyak anak justru lebih patuh pada sekolah dibanding lingkungan sekitar,” tuturnya.

Siswanto menegaskan bahwa kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sangat penting dalam membentuk karakter siswa.

“Kalau ada ucapan atau tindakan yang terkesan keras, itu semata-mata demi mendidik, bukan untuk menjatuhkan,” pungkas Siswanto.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like