Samarinda, VivaNusantara — Pekan lalu, terminal bayangan di Jalan APT Pranoto, Samarinda Seberang, resmi ditutup oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Dinas Perhubungan dan Satpol PP. Penutupan itu dimaksudkan agar seluruh aktivitas transportasi masyarakat Samarinda terpusat di terminal utama yang berada di Sungai Kunjang.
Kebijakan tersebut justru menuai kritik karena kondisi terminal utama itu dinilai sudah usang dan tidak layak beroperasi. Pengamat kebijakan publik Universitas Mulawarman, Saipul Bachtiar, menyebut lokasi terminal sebenarnya sangat strategis karena berdampingan dengan Pelabuhan Sungai Mahakam yang melayani jalur ke wilayah pedalaman. Namun, kondisi bangunan, fasilitas, keamanan, hingga pelayanannya sudah jauh dari standar yang semestinya.
“Kalau bicara tata ruang, letaknya ideal. Tapi fasilitasnya kumuh, toiletnya buruk, ruang tunggunya tidak nyaman. Itu wajah kota, dan sekarang mencerminkan citra suram,” ujarnya, Rabu (8/10/2025).
Saipul menilai, kondisi tersebut membuat banyak masyarakat dan sopir bus lebih memilih menggunakan terminal bayangan ketimbang terminal resmi. Karena itu, menurutnya, pemerintah tidak bisa lagi hanya melakukan rehabilitasi ringan, tetapi harus membangun ulang terminal dengan konsep modern.
Ia menambahkan, pembangunan terminal modern harus mencakup fasilitas publik yang nyaman, seperti area kuliner, kios tertata, serta ruang tunggu yang bersih dan ber-AC, agar masyarakat merasa aman dan betah menunggu di terminal resmi.
“Kalau saya pikir, ini mesti dibangun ulang dengan konsep modern, ruang tunggu nyaman, toilet bersih, suasana aman, dan pertokoan tertata rapi. Ini kan bisa jadi ikon baru di Samarinda,” tuturnya.
Saipul juga menyarankan agar pembangunan ulang Terminal Sungai Kunjang dilakukan bersamaan dengan pembenahan pelabuhan kapal di tepian Sungai Mahakam. Menurutnya, pelabuhan tersebut juga tak layak karena lebih menyerupai fasilitas sementara ketimbang pelabuhan permanen. Ia menilai keduanya perlu diintegrasikan agar sistem transportasi darat dan sungai dapat berjalan efisien dan saling melengkapi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pembangunan SPBU khusus di kawasan tersebut untuk melayani bus dan kapal, guna mendukung efisiensi operasional sekaligus memastikan distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran.
“Harus ada SPBU tersendiri di kawasan itu, khusus untuk bus dan kapal. Pemerintah bisa kerja sama dengan Pertamina agar pengguna tidak kesulitan dan penyaluran BBM subsidi tetap tepat sasaran,” sarannya.
Lebih jauh, Saipul menilai lambannya perbaikan terminal bukan disebabkan kendala teknis, melainkan karena minimnya kemauan politik dari Pemprov Kaltim sendiri.
“Di Bontang dan Kutai Timur terminal baru sudah dibangun. Justru di ibu kota provinsi yang paling mendesak, malah tertinggal,” tambahnya.
Di sisi lain, Mistoadi, seorang sopir bus sekaligus Ketua RT 37 Kelurahan Sungai Keledang, mengungkapkan masyarakat lebih nyaman menggunakan terminal bayangan di Jalan APT Pranoto karena fasilitas yang lebih memadai dan rasa aman yang lebih terjaga.
“Di sini ada penitipan motor, WC lengkap, aman. Kalau di Terminal Sungai Kunjang sering kehilangan motor dan akses angkotnya susah,” ungkapnya.
Mistoadi menjelaskan, sistem keberangkatan di terminal bayangan sebenarnya tetap tertib. Setiap 10 menit satu bus berangkat menuju Balikpapan, dan jika penumpang kurang, mereka dialihkan ke bus berikutnya.
“Tidak ada yang ngetem sembarangan. Justru lebih rapi dibanding yang dibayangkan,” jelasnya.
Ia berharap, setelah terminal bayangan ditutup, Pemprov Kaltim benar-benar serius membenahi Terminal Sungai Kunjang agar penumpang tak lagi memilih terminal bayangan, dan para sopir dapat bekerja dengan nyaman.
“Kalau fasilitasnya baik, orang pasti kembali ke terminal resmi. Tapi selama kondisinya masih begitu, penumpang akan tetap condong ke alternatif lain,” pungkasnya.
Penulis: Ain
Editor: Lisa