Samarinda, VivaNusantara – Demi terlihat keren dan tak ketinggalan tren, banyak Gen Z kini rela berutang lewat pinjaman online (pinjol). Dari skincare sampai gadget terbaru, gaya hidup konsumtif yang dibungkus FOMO (fear of missing out) membuat mereka terjebak dalam lingkaran utang yang kian mengkhawatirkan.
Psikolog sekaligus pendiri biro konseling “Mata V Hati”, Yulia Wahyu Ningrum, mengungkapkan sebagian klien yang datang kepadanya berasal dari kelompok usia Gen Z. Menurutnya, faktor FOMO menjadi salah satu pemicu utama mereka mengambil pinjaman.
“Bahkan ada kasus yang cukup ironis, seseorang rela berhutang hanya untuk membeli skincare, hingga rela tidak makan. artinya benar-benar mengutamakan penampilan daripada kebutuhan dasar,” jelas Yulia. Senin (18/8/2025).
Pandangan serupa disampaikan oleh pengacara Tri Wahyuni. Ia menilai, peran orang tua sangat penting dalam membekali anak dengan literasi dan manajemen keuangan yang baik sejak dini.
“Ketika orang tua mampu memberikan pemahaman keuangan, anak bisa lebih bijak mengatur prioritas. Skincare misalnya, tetap harus disesuaikan dengan usia dan fase hidup, meskipun orang tua mampu membiayai,” kata Tri.
Ia juga menekankan perlunya peran pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap praktik pinjol agar tidak semakin membebani generasi muda.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, per Mei 2025 tingkat kredit macet pinjol (TWP90) berada di angka 3,19 persen. Dari jumlah itu, kelompok usia 19–34 tahun yang didominasi Milenial dan Gen Z menyumbang porsi terbesar, yakni 51,52 persen dari total outstanding pinjaman perorangan dan 53,48 persen dari pembiayaan bermasalah. Artinya, lebih dari separuh utang pinjol nasional ditanggung oleh kelompok usia muda, sekaligus menjadi penyumbang terbesar kredit macet di sektor ini.
Fenomena ini sejalan dengan hasil survei Inventure 2024 Indonesia Market Outlook 2025, yang menemukan bahwa sekitar 34 persen Gen Z pernah mengakses pinjaman online dalam enam bulan terakhir. Mayoritas dari mereka memanfaatkan dana tersebut untuk kebutuhan gaya hidup, dengan 61 persen digunakan membeli gadget terbaru, 35 persen untuk belanja fesyen, dan 23 persen untuk rekreasi seperti nongkrong atau liburan. Fakta tersebut memperkuat gambaran bahwa konsumerisme digital semakin mengikat generasi muda dalam jerat utang.
Jika ditarik lebih luas, total kredit macet pinjol nasional yang berasal dari kelompok usia muda (Gen Z dan Milenial) mencapai 37,17 persen dari total tunggakan lebih dari 90 hari. Kondisi ini menandakan bahwa kelompok usia produktif justru paling rentan terjerat pinjaman dengan risiko gagal bayar tinggi.
Melihat tren tersebut, para pakar sepakat bahwa literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa bekal pemahaman yang kuat tentang pengelolaan uang, Gen Z akan semakin mudah terjerumus pada gaya hidup konsumtif yang dibiayai utang. Pada akhirnya, pinjol yang semula dimaksudkan sebagai solusi darurat justru berpotensi menjadi jebakan yang mengekang kebebasan finansial generasi muda.
Penulis: Intan
Editor: Lisa