Home NasionalAntara Doa dan Derita, Haikal Bertahan di Bawah Reruntuhan, Kaki Kirinya Telah Tiada

Antara Doa dan Derita, Haikal Bertahan di Bawah Reruntuhan, Kaki Kirinya Telah Tiada

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Tiga hari bertahan di bawah reruntuhan Musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, Haikal kini harus menghadapi ujian baru dalam hidupnya. Bocah 13 tahun itu selamat dari maut, namun dokter terpaksa harus mengamputasi kaki kirinya akibat infeksi parah pasca tertimpa puing bangunan.

Kisah Haikal sempat mengguncang hati publik. Ia ditemukan dalam keadaan sadar setelah tiga hari terperangkap di antara tumpukan beton. Dalam kondisi lemah dan luka di sekujur tubuh, ia masih sempat menjawab panggilan tim penyelamat.

“Haikal, kamu yang sakit apa, Nak?” tanya petugas.

“Semuanya sakit,” jawabnya lirih. Potongan dialog yang terekam dalam video evakuasi dan kini viral di media sosial.

Namun di balik kisah heroik penyelamatannya, tersimpan keteguhan iman yang membuat banyak orang tertegun. Haikal bercerita bahwa selama tiga hari berada di bawah reruntuhan, ia masih berusaha melaksanakan salat meski tubuhnya tertindih beton dan hanya bisa bergerak sedikit. Dalam kegelapan dan rasa sakit, ia memilih menenangkan diri dengan zikir dan doa, berharap pertolongan datang dari arah mana pun.

Yang lebih menyayat, Haikal ditemukan di dekat temannya yang meninggal dalam keadaan sujud. Posisi itu menjadi simbol keimanan yang membekas di hati banyak orang.

Setelah berhasil diselamatkan, Haikal sempat dirawat intensif di RSUD Sidoarjo. Namun, infeksi berat pada kaki kirinya membuat tim medis harus mengambil keputusan sulit. Sabtu dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB, dokter melakukan amputasi di atas lutut.

“Secara medis, bagian kaki Haikal sudah masuk kategori dead limb l tidak ada aliran darah ke tungkai bawah,” jelas dr. Yusuf Taufiq, dokter spesialis bedah yang menangani Haikal.

“Kalau tidak segera diamputasi, infeksinya bisa menyebar dan mengancam nyawa,” sambungnya, dilansir dari detikjatim.com

Hasil pemeriksaan USG Doppler menunjukkan tidak adanya aliran darah pada arteri maupun vena kaki kiri. Kulit mulai membiru, muncul gelembung air, dan jari tidak bisa digerakkan. Selain itu, tanda-tanda sepsis mulai terlihat dengan meningkatnya leukosit, demam, serta gangguan ginjal dan hati.

Untuk menyelamatkan nyawa sang bocah, tim dokter memilih prosedur close amputation, yakni pemotongan pada jaringan yang masih hidup agar infeksi tidak meluas. Setelah operasi, kondisi Haikal dilaporkan stabil dan terus menunjukkan tanda pemulihan.

“Alhamdulillah kondisinya membaik. Ia sadar penuh, mulai bisa makan, dan tetap ceria saat diajak berbicara,” tambah dr. Yusuf.

Kisah Haikal menjadi pengingat betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati dalam peristiwa tragis ambruknya Musala Pondok Pesantren Al Khoziny, yang terjadi pada 29 September 2025 lalu. Bangunan yang baru dalam tahap pembangunan itu runtuh saat para santri sedang melaksanakan salat Ashar.

Penyelidikan sementara menyebutkan bahwa struktur bangunan gagal menahan beban beton cor, menyebabkan kolom dan pelat ambrol secara berlapis, menimpa jamaah di bawahnya. Proses evakuasi berlangsung lama karena sebagian besar korban tertimbun material berat.

Tragedi itu menelan puluhan korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka, sampai berita ini diturunkan pencarian korban masih terus dilakukan.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like