Denpasar, VivaNusantara – Senja mulai turun di Uluwatu, meninggalkan gurat oranye yang menyapu tebing-tebing curam dan pura yang berdiri gagah di ujung lautan. Angin sore membawa aroma garam dan suara ombak yang pecah di kaki batu karang.
Di tengah panorama yang memesona, para wisatawan mondar-mandir mencari spot foto terbaik, termasuk jurnalis muda, Intan dan rekannya, Yana, yang akrab disapa Bunda.
Setelah puas berkeliling dan berfoto, rasa haus menyerang. Intan memutuskan membeli beberapa botol air mineral dari pedagang terdekat. Ia kembali dengan membawa sekantong kresek hitam berisi minuman, sementara Bunda berjalan santai di sampingnya. Mereka tak menyadari bahwa senja Uluwatu menyimpan “panggung” lain yang jauh lebih dramatis daripada sekadar pemandangan laut dan tebing.
Ketika mereka melangkah kembali menuju area duduk, udara seolah berubah. Dari sisi kiri, muncul seekor monyet abu-abu besar, diikuti beberapa lainnya yang berjalan mantap seolah menguasai wilayah. Dari depan, muncul lagi lebih banyak jumlahnya, dengan mata memperhatikan benda yang ditenteng Intan.
Awalnya Intan dan Bunda berjalan berdua tanpa menyadari keberadaan para “penyamun berekor” yang mendekat dengan percaya diri. Baru ketika beberapa turis di belakang tampak berhenti dan menatap, Intan menyadari bahwa mereka sedang masuk ke dalam “zona bahaya”.
Dengan ketenangan yang berpadu kepanikan kecil, Intan menoleh dan berkata cepat kepada rekannya.
“Bunda, jalan duluan!,” ujarnya.
Bunda segera menyingkir, sementara Intan masih berusaha mempertahankan plastik berisi minuman tersebut. Tapi hanya beberapa detik kemudian, seekor monyet besar mulai mempercepat langkah, diikuti yang lain. Gerakannya tegas, agresif, seperti sudah paham betul apa yang harus diambil.
Di hadapan ancaman puluhan monyet yang mendekat seperti gerombolan perampok terorganisir, Intan membuat keputusan cepat, keputusan yang sangat masuk akal dalam ekologi Uluwatu:
Botol-botol air beterbangan dan jatuh di tanah. Dan seperti adegan rebutan makanan dalam film dokumenter, para monyet langsung menyerbu, saling tarik, saling loncat, benar-benar pemandangan yang tak pernah dibayangkan Intan akan disaksikannya secara langsung.
Di tengah kekacauan kecil itu, beberapa turis yang berdiri di tangga menjerit memperingatkan.
“Your glasses! Your phone!,” teriaknya.
Intan memang berkacamata, dan ia tahu betul reputasi monyet Uluwatu, bukan hanya minuman, kacamata dan ponsel adalah harta karun mereka.
Dengan refleks cepat seorang jurnalis lapangan yang sudah sering menghadapi situasi tak terduga, Intan langsung melepas kacamata, memasukkannya dengan sigap ke dalam tas, diikuti ponselnya. Semua dilakukan dalam hitungan detik, nyaris seperti adegan spionase.
Di depannya, gerombolan monyet mulai berpencar, puas dengan jarahan air mineral yang kini sudah berada di tangan (atau tepatnya dalam genggaman) mereka. Beberapa bahkan membawa lari botol itu sambil berteriak kecil, seolah merayakan kemenangan.
Setelah memastikan semua barang aman, Intan kembali menyusul Bunda. Mereka berjalan perlahan melewati monyet-monyet yang masih sibuk menikmati botol-botol air tadi. Beberapa turis menatap dengan kagum, sebagian masih menahan tawa, dan beberapa lagi terlihat ngeri melihat aksi para monyet yang begitu terkoordinasi.
Mereka akhirnya sampai di area aman. Wajah Intan sedikit merah, antara lelah, deg-degan, dan geli. Bunda menatapnya sambil tertawa tak percaya.
Senja Uluwatu rupanya tak hanya menyuguhkan pemandangan indah. Namun juga memberikan cerita dramatis yang akan terus ditertawakan bertahun-tahun kemudian.
Penulis: Intan
Editor: Lisa