Samarinda, VivaNusantara – Puluhan pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di Pasar Subuh, Jalan Yos Sudarso, kembali menyuarakan penolakan terhadap rencana relokasi yang digagas Pemerintah Kota Samarinda. Aksi tersebut digelar di depan Balai Kota pada Selasa (28/4/2025).
Diketahui sejak tahun 2023 lalu, Pemkot Samarinda terus mendorong relokasi pedagang Pasar Subuh ke Pasar Beluluq Lingau di Jalan PM Noor. Lokasi yang dianggap cukup jauh dan belum ramai itu, dinilai para pedagang tak mampu menggantikan peran strategis Pasar Subuh. Terlebih sebagian besar dari mereka telah berjualan selama belasan hingga puluhan tahun.
“Dulu kami hanya diminta hadir saat sosialisasi, tapi pemerintah menyebut itu sebagai bentuk persetujuan. Padahal tidak ada satupun dari kami yang secara tegas menyatakan setuju dipindah,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Subuh, Abdus Salam.
Menurutnya, ada beban ekonomi yang besar jika relokasi dipaksakan. Cicilan rumah, biaya kuliah anak, dan kebutuhan hidup sehari-hari menjadi beban yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Apalagi berdagang di tempat baru membutuhkan waktu untuk membangun kembali pelanggan yang selama ini sudah loyal di Pasar Subuh.
“Kalau pindah ke tempat baru, belum tentu ada pembeli. Sementara kewajiban terus jalan,” ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah tidak mengambil keputusan secara sepihak, apalagi lahan yang mereka tempati saat ini merupakan milik pribadi yang disewakan secara sah. “Itu tanah punya orang, bukan fasilitas umum. Jadi kami juga merasa tidak melanggar aturan,” sambungnya.
Abdus Salam juga menyinggung soal rencana Pemkot Samarinda membangun Little Chinatown di kawasan tersebut. Ia menduga relokasi ini berkaitan dengan rencana itu, meskipun menurutnya lokasi proyek tidak sepenuhnya bersinggungan dengan pasar.
“Bagi kami itu sama sekali tidak berdasar, karena yang kami tahu proyek tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan lokasi persis areal wilayah dari Pasar Subuh,” pungkasnya.
Sementara itu, Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, membenarkan bahwa relokasi ke Pasar Beluluq Lingau telah dirancang sejak tahun 2023. Ia mengklaim proses sosialisasi sudah dilakukan secara bertahap, bahkan sejak dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Perdagangan.
Pada pertemuan awal, diakui Marnabas ada beberapa pedagang yang minta fasilitas di Pasar Beluluq Lingau dilengkapi dengan penerangan, genset dan beberapa fasilitas lainnya. Dan saat ini ia memastikan hal sudah dipenuhi oleh Pemkot Samarinda.
“Ada juga permintaan agar relokasi diundur karena ada perayaan hari besar keagamaan, dan kami beri ruang itu,” jelas Marnabas.
Ia menyebut ada 81 pedagang yang hadir dalam pertemuan sosialisasi dan sebagian besar menyetujui rencana relokasi. Menurutnya, hanya segelintir pedagang yang menolak. Pemkot pun telah menyiapkan insentif berupa bantuan Rp 500 ribu per pedagang untuk biaya pengangkutan ke lokasi baru.
Marnabas juga menjelaskan bahwa relokasi ini merupakan bagian dari upaya penataan kota, termasuk penertiban kawasan yang dianggap kumuh dan tidak sesuai peruntukan. Bahkan belakangan diketahui, lahan yang saat ini dijadikan berjualan adalah milik pribadi seorang warga, yang kemudian disewakan untuk aktivitas dagang.
“Tapi tidak ada izin resmi berjualan di situ, tentu itu tidak bisa dibiarkan terus,” tegasnya.
Ia berharap para pedagang bisa lebih kooperatif, sebab di Pasar Beluluq Lingau sendiri masih tersedia sekitar 80 lapak kosong yang bisa dimanfaatkan. Rencananya kegiatan relokasi akan dimulai pada Minggu (4/5/2025) mendatang.
“Kami juga akan mengadakan bazar di sana agar bisa meningkatkan daya tarik pasar. Ini bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat pasar tradisional,” pungkasnya.
Editor: Lisa