Samarinda, VivaNusantara – Keluhan terus berdatangan dari warga soal tarif parkir yang makin mahal di pusat perbelanjaan seperti Big Mall dan City Centrum. Banyak pengunjung merasa keberatan, apalagi dengan sistem tarif progresif yang bisa menguras kantong hanya dalam waktu singkat. Di tengah mahalnya biaya parkir resmi, alternatif yang disediakan pemerintah pun belum sepenuhnya menjawab kebutuhan.
Lahan parkir basement eks Plaza 21 sebenarnya sudah dibuka untuk umum. Namun, banyak warga yang mengaku tidak mengetahui adanya opsi ini, atau merasa ragu untuk menggunakannya. Lokasinya yang tersembunyi dan kondisi fisik yang kurang terawat membuat tempat ini luput dari perhatian.
“Awalnya saya pikir itu bukan tempat parkir umum. Jalannya becek, sepi, dan tidak kelihatan seperti tempat yang bisa dimasuki,” ujar Melvin, seorang pengendara motor yang baru pertama kali mencoba parkir di sana.
Tarif parkir di basement eks Plaza 21 memang lebih terjangkau, hanya Rp 2.000 untuk motor dan Rp 4.000 untuk mobil. Namun dengan fasilitas yang terbatas dan akses yang kurang nyaman, hanya sedikit warga yang merasa terbantu. Area parkir itu dipastikan sudah beroperasi dari pukul 06.00 sampai pukul 22.00 Wita dan kapasitasnya tidak besar, hanya cukup untuk puluhan kendaraan.
Minimnya papan petunjuk dan penerangan membuat warga makin enggan menggunakan tempat ini. Belum lagi adanya genangan air di pintu masuk yang terkesan dibiarkan begitu saja. Beberapa warga bahkan mengaku lebih memilih mengambil risiko parkir sembarangan, alih-alih masuk ke area yang tidak mereka kenal.
Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Dishub Samarinda, Didi Zulyani, mengakui bahwa fasilitas basement eks Plaza 21 memang belum banyak dimanfaatkan warga. Ia menyebutkan bahwa keterbatasan informasi dan promosi menjadi salah satu alasan utama mengapa parkir ini belum dikenal luas oleh masyarakat.
“Fasilitas itu sebenarnya sudah kami operasikan sejak tahun 2023, tapi memang kami akui belum banyak publikasi atau sosialisasi secara intens ke masyarakat. Tahun ini baru kami aktifkan sampai malam, jadi operasionalnya juga masih terbatas. Ke depan, kami akan coba lebih gencar menyampaikan ke publik bahwa ada alternatif parkir yang lebih terjangkau,” jelasnya.
Menurut Didi, pemerintah memang menaruh harapan besar pada keberadaan parkir ini sebagai solusi jangka pendek di tengah mahalnya tarif parkir di pusat perbelanjaan. Namun ia juga tak menampik adanya tantangan, mulai dari kondisi fisik bangunan yang tidak optimal, hingga kebiasaan warga yang sudah terbiasa mencari parkir di tempat yang dianggap lebih aman dan terang.
“Selama ini kami hanya bisa memanfaatkan ruang yang ada, sambil menunggu keputusan dari pemerintah kota soal rencana pembangunan ulang gedung Plaza 21. Rencana itu sudah ada, tapi realisasinya kami juga masih menunggu. Jadi untuk sementara, kami maksimalkan saja yang tersedia,” demikian Didi.
Penulis: Ria
Editor: Lisa