SAMARINDA – vivanusantara.id. Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi menyatakan dirinya tidak berambisi menjadi Ketua maupun Wakil Ketua Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Hal ini disampaikannya saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada acara Pelantikan Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) dan Ikrar Akbar Masyarakat Kaltim di Hotel Aston Samarinda, Senin (14/02/2022).
Namun menurutnya, tidaklah berlebihan, jika sebagai lokasi penetapan Ibu Kota Negara, Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai Kartanegara menginginkan kearifan lokal, putra terbaik lokal, mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
“Saya tidak ada ambisi, saya bangga bila Kaltim jadi Ibukota Negara, itu yang terpenting, Itu tonggak awal, disini banyak pakar ahli dan punya moral tinggi yang dapat membimbing kami putra-putri lokal ini, mana kala nanti, siapapun yang ditunjuk menjadi Ketua dan Wakil Ketua Badan Otorita IKN,” ujar Sultan Jarnawi.
Menurutnya, wajar Kaltim ditunjuk sebagai lokasi Ibu Kota Negara (IKN) sebagai pengganti Jakarta. Hal ini disebabkan Kaltim masih tertinggal dengan provinsi lainnya di pulau Jawa dan khususnya Jakarta. Kini saatnya kita menyambut IKN, dengan harapan adanya pemerataan pembangunan atau tidak timpang antara pusat dan daerah.
“Kehadiran IKN merupakan bagian dari rasa syukur kami kepada seluruh roh-roh leluhur kami, karena anggaran (penghasilan) Kalimantan Timur ini luar biasa, lari ke pusat, hampir Rp 500 triliun, hanya 4 persen yang kembali ke Kaltim, sekitar Rp 20 triliun dan itu pun harus dibagi ke 10 kabupaten kota. Kira-kira adil kah?” tanya Sultan Paser, dan dijawab serentak seluruh undangan yang hadir, dengan jawaban Tidak.
Dikatakan, Ia meyakini tidak ada satupun sejarah di negeri ini maupun di dunia tanpa melahirkan kearifan lokal yang punya historis sejarah pada daerah tersebut.
“Seyogyanya, atas nama pribadi dan Kesultanan Paser menghargai roh-roh leluhur yang berjuang baik di Kesultanan Kutai, Kesultanan Paser, suku Dayak, suku Jawa, suku Banjar bugis, saya meyakini ada roh leluhur yang mesti di hargai,” tegasnya.
Sebagai Sultan Paser, Ia tidak mengatakan dirinya hebat di negeri Paser maupun di Kalimantan ini. Dirinya kecil tanpa rakyat, rakyat lah menurutnya kearifan lokal yang menjadi Raja dan Tuan di negeri sendiri. Jangan sampai peradaban kearifan lokal leluhur ini, hilang begitu saja, hanya tinggal kenangan, tinggal nama.
Dia pun mengaku merinding dan bangga atas penghargaan terhadap tokoh-tokoh kearifan lokal, kita masih bisa berkumpul bersama. “Ini yang saya katakana kepada Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin, kita harus bersatu, dari ujung sungai sampai muara sungai, dari atas gunung sampai bawah gunung, tidak ada perjuangan tanpa persatuan,” katanya penuh semangat.
Ia pun berharap, kearifan lokal itu lah yang diberdayakan Pemerintah, ia meyakini penghargaan terhadap para leluhur, kearifan lokal baik di dalam IKN maupun di Kalimantan Timur dan Kalimantan pada umumnya layak dijadikan Ketua dan Wakil Ketua Badan Otorita IKN Nusantara nantinya.
Selain itu, Sultan juga menginginkan adanya komitmen pemerintah dalam menjaga kearifan lokal, seperti mempertahankan nama-nama daerah setempat, yang sejak ratusan tahun sudah eksis di lokasi IKN Nusantara seperti Nama Sepaku, Sepan, Mentawir. Pun dengan keberadaan hutan adat agar tetap dipertahankan, sehingga menjadi warisan anak cucu suku Paser dan Kutai Kelak.
“Disamping kami minta dibangun Istana Kesultanan Paser, kami pun minta dibangun miniatur Istana kesultanan dan etnis yang ada di Nusantara,” pinta Sultan Aji Muhammad Jarnawi.
Hal yang terpenting menurut Sultan Jarnawi adalah menjaga persatuan dan kesatuan anak bangsa, suku bangsa di Kalimantan khususnya di Kaltim. “Jangan sampai IKN yang kita perjuangkan tapi dibelakang kita berpecah-pecah. Kita tunjukkan kepada bangsa dan negara Indonesia bahwa kita bersatu, jangan sampai diantara kita perang saudara, auzu billahi min zalik,” tegasnya. (hel)