Oleh: Rhia Friady
Samarinda – Kasus perselingkuhan yang ramai diperbincangkan mempertontonkan fenoma baru. Hal tersebut sontak membuat geger dunia maya. Bagaimana tidak, sosok korban perselingkuhan berubah menjadi perebut lelaki orang (pelakor).
Tentunya masyarakat masih ingat dengan kasus artis Inara Rusli dan Iris Wullur. Dua orang publik figur yang berani mengungkap aib pasangan melalui media sosial secara terbuka. Menerima simpati serta dukungan masyarakat, seketika berubah menerima ujaran kebencian akibat kedekatannya dengan laki-laki beristri.
Mengawali kisah cinta yang terluka akibat pengkhianatan, dan mendapatkan simpati dapat mengubah korban menjadi pelaku perselingkuhan. Hal tersebut dapat dipengaruhi pada pengalaman seseorang akibat tindakan negatif, yang tanpa disadari, dapat mengulangi perilaku tersebut di masa depan.
Pengalaman dikhianati bisa merusak pandangan mereka tentang hubungan yang sehat. Perilaku ini merupakan manifestasi dari rasa sakit yang mendalam dan mekanisme koping yang tidak efektif.
Perlunya pendampingan psikologi dengan bantuan profesional seperti konseling atau terapi dapat membantu korban memproses trauma mereka dengan cara yang lebih sehat. Suriyadi dan Ichwan Ahnaz Alamudi dari Universitas Cahaya Bangsa, melalui jurnal yang ditulis dengan judul Eksistensi Asas Monogami Dan Praktik Poligami pada tahun 2025, menyatakan, perspektif politik hukum, asas monogami tetap menjadi prinsip fundamental.
Sementara poligami hanya diakui sebagai pengecualian terbatas. Dengan demikian, praktik poligami yang tidak sesuai ketentuan hukum dapat dianggap melanggar asas monogami. Pada kasus perselingkuhan, tindakan tersebut menempatkan manusia sebagai makhluk biologis dan psikologis yang kompleks.
Pernyataan ini tidak serta menyatakan semua orang pasti akan selingkuh, melainkan bahwa monogami seumur hidup nyatanya tidak menjadi satu-satunya bentuk hubungan yang paling “alami” sebagai pencapaian sebuah hubungan. Pernyataan bahwa manusia tidak memiliki sifat monogami, secara alami dapat dilihat dari respons otak seseorang memahami makna cinta, ketertarikan seksual, dan perasaan suka sebagai pandangan umum dalam studi biologi evolusioner dan neurosains.
Perbedaan respons otak juga dapat merujuk pada temuan neurosains bahwa otak manusia memproses tiga aspek hubungan melalui jaringan saraf yang berbeda. Sehingga, keseluruhan dari pernyataan dapat memberikan gambaran tentang Perilaku hubungan manusia yang sangat kompleks akibat adanya dorongan sistem biologis yang terpisah dan terkadang bertentangan.
Jurnal Impresi Indonesia (JII) melalui Studi Kualitatif Terkait Pengalaman Membangun Kembali Kepercayaan Dan Menyembuhkan Trauma Seorang Wanita Yang Menjadi Korban Perselingkuhan, yang ditulis Sasha Indara Cendani, dan kawan-kawan dari Universitas Semarang, dengan hasil penelitian mengungkapkan proses pemulihan melibatkan tahapan yang kompleks.
Keputusan untuk memaafkan dan mempertahankan hubungan, akan berdampak pada emosional jangka panjang seperti trust issue dan dan kewaspadaan berlebihan.
Editor: Lisa