Home OpiniTragedi Tewasnya Mahasiswa Malang, Seribu Pertanyaan Untuk Dunia Kampus

Tragedi Tewasnya Mahasiswa Malang, Seribu Pertanyaan Untuk Dunia Kampus

by Redaksi
0 comments

Samarinda – Kasus meninggalnya NFR (25), seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri Malang pada Jumat (28/11/2023) malam, bukan sekadar tragedi personal—ini adalah cermin retak dari dunia pendidikan kita yang semakin kehilangan sisi manusiawinya.

Pesan terakhir yang dikirimkan kepada adiknya, perilaku menarik diri, hingga tekanan pendidikan yang terungkap kemudian, menunjukkan bahwa mahasiswa hari ini hidup dalam pusaran stres akademik yang kerap tak terbaca oleh sistem.

Kampus selama ini terlalu sibuk mengejar akreditasi, publikasi, dan target kelulusan. Namun lupa membangun sistem peringatan dini ketika ada mahasiswa yang kesepian, kelelahan, atau kehilangan harapan.

Tidak semua luka terlihat. Tidak semua jeritan terdengar. Banyak mahasiswa tenggelam dalam tuntutan, tapi tidak menemukan ruang aman untuk berkata, “Saya sudah tidak sanggup.”

Tragedi ini seharusnya menggugah kampus untuk berbenah. Pendidikan bukan kompetisi yang membuat mahasiswa patah di tengah jalan, tetapi ruang tumbuh yang memanusiakan.

Kampus harus menyediakan konselor yang benar-benar aktif, bukan sekadar formalitas. Dosen perlu dibekali literasi kesehatan mental agar memahami bahwa satu kalimat dapat menyelamatkan, atau sebaliknya, melukai.

Orang tua pun perlu belajar bahwa anak bukan mesin prestasi. Dukungan emosional jauh lebih penting daripada tekanan untuk cepat lulus. Menjaga komunikasi, memahami perubahan perilaku, dan memastikan anak tidak menghadapi beban hidup seorang diri adalah fondasi utama ketahanan mental.

Kita boleh membangun gedung megah dan sistem akademik modern, tetapi semua itu tidak berarti apa-apa bila kita gagal menjaga satu hal: jiwa manusia.

Tragedi NFR adalah pesan sunyi yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak, menatap pendidikan kita, lalu bertanya: sudahkah kita benar-benar hadir untuk para mahasiswa yang sedang berjuang diam-diam?

You may also like