Samarinda, VivaNusantara – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat angka kematian ibu melahirkan tertinggi di Kalimantan Timur per Mei 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Kukar dan Kota Samarinda masing-masing mencatat enam kasus kematian ibu, dari total 26 kasus di seluruh provinsi dalam lima bulan pertama tahun ini.
Anggota DPRD Kaltim, Salehuddin menyebut, tingginya angka kematian
bukan disebabkan minimnya fasilitas kesehatan. Namun hal ini juga dipengaruhi rendahnya tingkat literasi dan edukasi kesehatan masyarakat, terutama di desa.
“Tenaga kesehatan sudah disediakan hingga tingkat desa, mulai dari bidan hingga perawat. Tapi banyak masyarakat yang masih lebih percaya pada bidan kampung dibanding tenaga medis resmi,” ungkap Salehuddin, saat diwawancarai usai Rapat Paripurna Ke 20 di Gedung B DPRD Kaltim, Senin (23/6/2025).
Ia menambahkan, edukasi kepada ibu hamil sering kali tidak tersampaikan secara efektif, sehingga banyak yang tidak memahami risiko komplikasi kehamilan.
Padahal, menurut data Dinkes Kaltim, mayoritas kematian ibu bukan disebabkan oleh perdarahan obstetrik, tetapi oleh komplikasi non-obstetrik (42%), hipertensi (38%), dan perdarahan (12%).
Sebagai solusi konkret, Salehuddin mendorong reaktivasi dan penguatan peran kader Posyandu di setiap desa. Ia menilai para kader merupakan garda terdepan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan berperan penting dalam deteksi dini risiko kehamilan.
“Mereka perlu diberikan pelatihan yang layak agar mampu memberikan edukasi dan mengenali gejala berbahaya. Kalau kader kuat, banyak nyawa bisa diselamatkan sejak awal,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten. Ia menyesalkan jika koordinasi hanya berhenti pada pengumpulan data atau monitoring tanpa membedah akar masalah secara menyeluruh.
Penulis: Intan
Editor: Lisa