Samarinda, VivaNusantara — Kemajuan teknologi dan gaya hidup instan ternyata membawa dampak lain bagi Generasi Z dan Alpha. Sejumlah ahli mulai menyoroti gejala “penuaan dini” secara emosional yang dialami dua generasi ini.
Meski belum terbukti secara biologis, penelitian menunjukkan bahwa Gen Z dan Alpha lebih cepat mengalami kelelahan mental dibandingkan generasi sebelumnya.
Dalam laporan Gallup tahun 2021, sekitar 47 persen Gen Z mengaku sering merasa burnout, bahkan sejak usia remaja. Tekanan dari media sosial, persaingan akademik yang ketat, hingga ekspektasi sosial yang tinggi disebut sebagai faktor utama pemicunya.
“Mereka tahu terlalu banyak, terlalu cepat. Anak muda zaman sekarang tumbuh di tengah arus informasi yang deras, membuat mereka dewasa sebelum waktunya,” ujar Dr. Jean Twenge, psikolog sekaligus penulis buku iGen, dalam wawancara yang dikutip dari Psychology Today.
Tak hanya itu, laporan dari Sleep Foundation pada tahun 2023 mencatat, remaja Gen Z tidur rata-rata 1 hingga 2 jam lebih sedikit per malam dibandingkan remaja dari generasi sebelumnya. Pola tidur yang terganggu, terutama akibat paparan cahaya biru dari layar gawai, turut berkontribusi pada penurunan kualitas kesehatan fisik dan mental mereka.
Fenomena ini juga terlihat pada Generasi Alpha, anak-anak kelahiran setelah tahun 2010. Mereka dinilai mengalami proses “adultification”, yakni kecenderungan untuk berpikir dan terlibat seperti orang dewasa pada usia yang masih sangat muda. Gaya bicara, topik pembicaraan, bahkan minat terhadap konten digital berorientasi dewasa menjadi hal yang lazim di lingkungan mereka.
Dalam istilah populer, kondisi ini disebut sebagai “kelelahan emosional” dan “penuaan digital”. Kelelahan emosional Merujuk pada kelelahan emosi akibat tekanan yang terus-menerus, sementara penuaan digital adalah penuaan kulit akibat paparan teknologi dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, para ahli tekanan fenomena ini dapat diminimalkan jika lingkungan keluarga dan sekolah mampu menyediakan ruang aman untuk anak dan remaja mengekspresikan diri tanpa tekanan berlebihan.
Penulis: Intan
Editor: Lisa