Home DaerahKota SamarindaLapar Bikin Sensian? Studi Ungkap Hubungan Makanan dan Emosi Perempuan

Lapar Bikin Sensian? Studi Ungkap Hubungan Makanan dan Emosi Perempuan

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Bagi sebagian besar perempuan, makanan bukan melulu soal rasa dan kebutuhan biologis. Namun lebih dari sekadar asupan, yang erat kaitannya dengan kestabilan emosi dan tingkat kebahagiaan.

Sejumlah studi ilmiah mengungkapkan, hubungan antara makanan dan kondisi psikologis sangat signifikan, khususnya pada perempuan. Penelitian dari Harvard Health Publishing (2022) menunjukkan pola makan yang sehat seperti konsumsi buah, sayur, dan gandum utuh terbukti mampu menurunkan risiko depresi hingga 35 persen.

Sebaliknya, diet tinggi gula, makanan olahan, dan karbohidrat cepat serap justru berisiko memicu perubahan suasana hati drastis dan perasaan cemas berlebihan.

Lula (11) mengakui makanan bisa jadi kunci utama menjaga mood-nya tetap stabil. “Aku tuh gampang badmood kalau kelaperan. Makannya makanan tuh penting untuk menjaga mood ku biar selalu happy,” ujarnya sembari tertawa, Sabtu (12/7/2025).

Hal serupa juga disampaikan oleh Aqila (12) Menurutnya, ada korelasi langsung antara rasa lapar dengan kondisi emosional perempuan. “Jujur aja, lapar itu bikin aku jadi lebih sensitif, apalagi kalo cuaca panas ditambah lapar, itu pasti akan merusak mood,” jelasnya.

Pernyataan mereka sejalan dengan laporan dari American Psychological Association (APA) yang menyebutkan perempuan lebih rentan mengalami “emotional eating” kondisi di mana seseorang makan untuk merespons stres atau emosi negatif.

Dalam jangka panjang, asupan makanan yang baik justru bisa membantu mengelola stres, memperbaiki kualitas tidur, hingga meningkatkan hormon serotonin, hormon yang erat kaitannya dengan rasa bahagia.

Selain itu, studi dari University of Warwick di Inggris juga menegaskan, konsumsi buah dan sayuran minimal lima porsi per hari mampu meningkatkan rasa puas terhadap hidup dan menurunkan risiko depresi, terutama pada perempuan usia 18–30 tahun.

Meski begitu, pakar kesehatan menganjurkan agar pengaruh makanan terhadap mood tidak dijadikan alasan untuk pola konsumsi tak seimbang.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like