Home DaerahKota SamarindaDetoks Media Sosial, Pilihan Gen Z Menjaga Kewarasan di Era Digital

Detoks Media Sosial, Pilihan Gen Z Menjaga Kewarasan di Era Digital

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Di balik tampilan estetik dan viralnya konten media sosial, diam-diam generasi Z menyimpan kelelahan. Notifikasi tanpa henti, tekanan untuk terus tampil sempurna, hingga kecanduan validasi digital menjadi beban tersendiri. Maka, tren detoks media sosial kini menjelma menjadi langkah sadar yang dipilih banyak anak muda untuk kembali terkoneksi dengan dunia nyata.

Salah satunya adalah Wardah (22), mahasiswi asal Samarinda yang rutin melakukan detoks digital setiap bulannya. Ia menghapus aplikasi Instagram dan TikTok selama beberapa hari agar bisa fokus pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

“Awalnya cuma coba-coba karena ngerasa overwhelmed. Tapi ternyata detoks itu ngaruh banget. Aku jadi nggak gampang cemas, tidur lebih nyenyak, dan lebih produktif. Rasanya kayak tarik napas dalam setelah tenggelam terlalu lama,” ujarnya, Kamis (3/7/2025).

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Penelitian dari University of Bath di Inggris pada tahun 2022 membuktikan bahwa detoks media sosial selama satu minggu saja dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis secara signifikan, termasuk menurunkan tingkat kecemasan dan depresi.

Studi ini melibatkan 154 partisipan usia 18–72 tahun yang diminta berhenti menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan TikTok selama tujuh hari. Hasilnya, kelompok yang detoks mengalami peningkatan suasana hati (mood) dan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol.

Tak hanya itu, laporan tahunan Global Digital Report 2023 yang dirilis We Are Social dan Meltwater mengungkapkan bahwa lebih dari 41 persen Gen Z secara sadar mengurangi waktu mereka di media sosial karena alasan kesehatan mental.

Wardah mengaku tak lagi takut ketinggalan tren setelah membiasakan detoks. Justru ia merasa lebih damai dan mengenal dirinya lebih dalam.

“Yang dulu jadi sumber stres, sekarang aku tinggalkan. Rasanya seperti menemukan versi terbaik dari diriku sendiri. Gak semua hal harus kita lihat, gak semua momen harus kita bagikan,” tuturnya.

Alih-alih Fear of Missing Out (FOMO), kini semakin banyak Gen Z yang mempraktikkan Joy of Missing Out (JOMO) kebahagiaan karena bisa tidak ikut serta dalam hiruk-pikuk dunia maya.

Dalam praktiknya, detoks ini dilakukan beragam. Ada yang menghapus aplikasi, menonaktifkan akun, hingga menggunakan fitur screen time limit. Beberapa bahkan mengganti waktu online mereka dengan aktivitas offline seperti journaling, membaca buku, olahraga, hingga ikut komunitas lokal.

Platform digital sendiri mulai merespons. Instagram dan TikTok menghadirkan fitur seperti Take a Break atau Daily Time Limit sebagai dukungan terhadap penggunaan yang lebih bijak.

Namun menurut Wardah, kuncinya tetap ada di kendali pribadi.

“Teknologi bisa dibatasi, tapi kalau mentalnya nggak siap, tetap aja balik lagi. Makanya detoks ini bukan soal aplikasi, tapi tentang keberanian mengatur ulang prioritas,” pungkasnya.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like