Home DaerahKota SamarindaFestival “Samarinda Tempo Dulu” Diusulkan Jadi Agenda Tahunan, Pemkot Siap Fasilitasi Aktivasi Citra Niaga

Festival “Samarinda Tempo Dulu” Diusulkan Jadi Agenda Tahunan, Pemkot Siap Fasilitasi Aktivasi Citra Niaga

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Pemerintah Kota Samarinda membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan komunitas kreatif untuk menghidupkan kembali kawasan Citra Niaga sebagai pusat seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Komitmen itu mengemuka dalam audiensi bersama Tirtonegoro Foundation terkait penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya bertajuk “Samarinda Tempo Dulu”, yang digelar di Ruang Rapat Wakil Wali Kota Samarinda, Selasa (12/5/2026).

Audiensi tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, bersama sejumlah kepala perangkat daerah, termasuk Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian, Dinas Perdagangan, Bagian Ekonomi, serta Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP).

Dalam pertemuan itu, Tirtonegoro Foundation memaparkan kiprahnya sebagai organisasi yang sejak 2017 aktif bergerak di bidang pendidikan seni, budaya, literasi, serta pemberdayaan ruang-ruang marginal berbasis anak muda.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menerima audiensi Tirtonegoro Foundation terkait rencana penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya Samarinda Tempo Dulu di Ruang Rapat Wakil Wali Kota, Balaikota Samarinda, Selasa (12/5/2026). Pertemuan tersebut membahas dukungan pemerintah serta penguatan koordinasi teknis untuk menjadikan Citra Niaga sebagai pusat seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Foto : TWAP

Mereka juga menyoroti keberhasilan Festival Samarinda Tempo Dulu sebelumnya yang berhasil menarik sekitar 5.000 pengunjung tanpa tiket masuk dan dinilai sukses menghidupkan kembali kawasan Citra Niaga.

“Festival Samarinda Tempo Dulu kami hadirkan bukan sekadar ruang hiburan, tetapi sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif warga terhadap identitas budaya Samarinda sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi komunitas kreatif dan UMKM lokal,” ujar perwakilan Tirtonegoro Foundation, Rahmat Azazero Mantoro.

Festival tersebut menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari pagelaran seni budaya tradisional, permainan rakyat tempo dulu, musik tingkilan dan keroncong, kuliner tradisional, pelibatan komunitas sepeda ontel, hingga partisipasi pelaku UMKM lokal.

“Antusiasme masyarakat pada pelaksanaan sebelumnya menunjukkan bahwa ruang publik seperti Citra Niaga masih sangat relevan menjadi pusat interaksi budaya, ekonomi, dan kreativitas anak muda,” lanjutnya.

Meski mendapat respons positif, pelaksanaan festival sebelumnya juga menyisakan sejumlah catatan, terutama terkait kendala administratif dan regulasi penggunaan kawasan, seperti penataan UMKM, penggunaan ruang komunitas, hingga pengaturan lalu lintas dan parkir.

Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa pemerintah pada prinsipnya mendukung penuh kegiatan kreatif berbasis komunitas yang mampu menghidupkan ruang publik.

“Pemerintah Kota Samarinda pada prinsipnya sangat mendukung kreativitas anak muda dan kegiatan berbasis komunitas yang mampu menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat identitas budaya daerah,” tegasnya.

Namun, ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi teknis agar pelaksanaan kegiatan berjalan tertib dan tidak menimbulkan persoalan baru.

“Yang perlu kita perkuat adalah komunikasi dan koordinasi teknis agar pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, serta tidak menimbulkan persoalan bagi pelaku usaha maupun masyarakat sekitar,” katanya.

Pemkot pun membuka ruang koordinasi lintas organisasi perangkat daerah untuk menyusun langkah mitigasi, mulai dari pengaturan lokasi UMKM agar tidak berbenturan dengan pedagang eksisting, penempatan komunitas sepeda ontel di area luar kawasan utama, hingga pengaturan kantong parkir dan rekayasa lalu lintas.

Selain itu, ada rencana menyinkronkan festival dengan agenda car free day di kawasan sekitar Citra Niaga dan tepian Mahakam agar dampaknya lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Saefuddin berharap kawasan Citra Niaga dapat berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi ikon budaya kota.

“Kami ingin Citra Niaga tidak hanya menjadi kawasan perdagangan, tetapi juga tumbuh sebagai pusat seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang menjadi kebanggaan Kota Samarinda,” ujarnya.

Festival Samarinda Tempo Dulu sendiri direncanakan kembali digelar pada 5–7 Juni 2026. Pemerintah dan penyelenggara sepakat meningkatkan koordinasi sejak awal agar pelaksanaannya lebih matang.

“Jika dikelola dengan baik, Festival Samarinda Tempo Dulu sangat layak menjadi agenda tahunan Kota Samarinda karena memiliki nilai budaya, wisata, dan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat,” tandas Saefuddin.

Dengan dukungan pemerintah dan semangat komunitas kreatif, kawasan Citra Niaga kini diproyeksikan menjadi salah satu simpul utama penguatan identitas budaya sekaligus destinasi wisata kreatif baru di Kota Tepian.(Ls)
Editor : Lisa

You may also like