Home DaerahKota SamarindaGas Melon Menguap, Bright Gas Jadi Alternatif Warga

Gas Melon Menguap, Bright Gas Jadi Alternatif Warga

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Belakangan ini kehadiran gas LPG 3 kilogram atau biasa disebut gas melon, semakin minim di kalangan masyarakat. Meski kerap menjadi andalan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, nyatanya menjelang peringatan Iduladha lalu, banyak masyarakat mengeluhkan kelangkaan gas melon.

Disusul dengan fenomena penguapan gas, yang membuat isinya terasa cepat habis, bahkan saat belum digunakan. Salah satunya diungkapkan Titi, warga Kelurahan Temindung, Kecamatan Sungai Pinang.

Ia mengaku pernah menyimpan dua tabung gas melon saat kelangkaan, namun saat hendak digunakan, salah satunya sudah tidak berisi “Gasnya menguap. Saya kira masih penuh, ternyata kosong. Katanya memang kalau disimpan lama gas bisa keluar sendiri. Jadi kami akali dengan ikat plastik di kepala tabung biar gak keluar udaranya,” ujar Titi, Jumat (13/6/2025).

Kondisi ini membuat sebagian warga beralih ke Bright Gas 12 kilogram yang dinilai lebih tahan lama dan stabil, seperti yang disampaikan Rina, ibu rumah tangga dari Sungai Pinang. Ia secara tegas memilih tidak menggunakan gas melon karena menyadari itu diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.

“Gas melon itu buat yang benar-benar butuh. Saya pakai Bright 12 kilogram, cukup sering masak juga, tapi bisa tahan sebulan lebih. Lebih stabil, isinya tidak mudah berkurang,” ungkapnya.

Plt Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindag) Samarinda, Ekha Agustina, membenarkan bahwa penguapan gas melon bisa saja terjadi, terutama jika tabung tidak segera digunakan setelah pengisian.

“Gas memang diisi sesuai standar 3 kilogram. Tapi saat disimpan lebih dari 24 jam, terutama di tingkat pengecer atau rumah tangga, bisa mengalami penguapan. Itu sebabnya, gas kadang terasa berkurang meski belum dipakai,” jelasnya.

Menurut Ekha, fenomena ini menjadi salah satu alasan mengapa Bright Gas dinilai lebih efisien. Dari hasil uji coba yang dilakukan Disperindag, gas nonsubsidi tersebut tidak hanya tahan lebih lama, tapi juga lebih stabil dari sisi volume isi.

“Meski harganya lebih mahal, tapi dalam jangka waktu penggunaan Bright Gas lebih efisien, terutama bagi keluarga dengan aktivitas memasak yang konsisten,” tandasnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like