Samarinda, VivaNusantara — Pasar saham Indonesia diguncang gejolak hebat, IHSG jatuh dua hari berturut-turut hingga memicu dua kali trading halt, sementara jajaran petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mundur beruntun tepat setelah penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/1/2026) sore WIB.
Ekonom senior Ryan Kiryanto menilai, pengunduran diri Ketua OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, dan dua pejabat lainnya adalah langkah profesional untuk meredam kepanikan pasar.
“Timing-nya pas, pas bursa sudah tutup, supaya gejolak tidak lebih dahsyat,” katanya.
Ryan menambahkan, keputusan mundur di tengah guncangan ini menunjukkan tanggung jawab dan sikap gentlemen para pejabat OJK dalam menjaga kepercayaan investor.
IHSG Turun Drastis, Dua Kali Trading Halt
IHSG pertama kali mengalami trading halt pada 28 Januari setelah terjun 8 persen ke 8.261,78, kemudian kembali dihentikan sementara pada 29 Januari di posisi 7.654,66.
Gejolak ini dipicu keputusan MSCI membekukan saham Indonesia dari rebalancing indeks Februari 2026 karena transparansi data free float.
Dampak langsungnya, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mundur Jumat pagi. Sore harinya, giliran tiga petinggi OJK menyusul:
Mahendra Siregar – Ketua Dewan Komisioner OJK
Inarno Djajadi – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon/KE PMDK OJK
I. B. Aditya Jayaantara – Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon/DKTK OJK
Memasuki Jumat malam, Mirza Adityaswara, Wakil Ketua DK OJK, juga mengundurkan diri.
Pengunduran diri mereka sesuai UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK, diperkuat UU No. 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK). Mahendra menegaskan keputusan mundur sebagai tanggung jawab moral untuk pemulihan pasar.
“Sekarang bola ada di pemerintah untuk menentukan babak lanjutan kepemimpinan OJK. Harus cepat dan tepat supaya efeknya tidak merembet ke nilai tukar rupiah,” pungkas Ryan.
Sumber : InfobankNews.com
Editor : TW