Samarinda, VivaNusantara – Tingkat konsumsi beras di Kalimantan Timur (Kaltim) masih tergolong tinggi. Hal ini pun menjadi perhatian serius, lantaran kebutuhan beras mencapai 29 ribu-34 ribu ton per bulan.
Meski demikian, pasokan beras di Kaltim masih bergantung dari luar daerah. Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kaltim, Siti Farisyah Yana, mengungkapkan sekitar 65 persen beras yang dikonsumsi warga berasal dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Ketergantungan ini membuat daerah sangat rentan terhadap gangguan distribusi.
“Begitu jalur logistik terhambat, dampaknya langsung terasa di pasar. Kita perlu memperkuat produksi lokal sekaligus memastikan distribusi antarwilayah tetap terjaga,” ujar Yana, dalam Forum Sinergi Informasi Menjaga Stabilitas Pangan dan Harga Beras di Rumah Jabatan Gubernur Kaltim, Selasa (19/8/2025).
Ia menilai, konsumsi selalu meningkat tajam menjelang hari besar keagamaan, sementara produksi beras lokal belum mampu mengimbangi lonjakan tersebut. “Jika kita tidak melakukan perubahan pola dan memperbesar kapasitas produksi dalam negeri, situasi ini akan berulang,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, menyoroti kebiasaan masyarakat yang lebih memilih beras premium dibanding beras medium. Ia menyatakan bahwa kualitas beras medium tidak kalah baik. “Masyarakat mengabaikan pilihan lain. Ketika stok premium seret, timbul keresahan yang sebenarnya tidak perlu,” jelas Heni.
Ia juga mengingatkan adanya praktik tidak sehat di pasaran. Sebab terdapat beras medium yang dikemas ulang lalu dijual sebagai premium. Bahkan pedagang sengaja menahan pasokan untuk mengatur harga. “Ini harus diawasi ketat oleh Satgas Pangan agar tidak merugikan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa