Samarinda, VivaNusantara – Komposisi pendidikan vokasi di Indonesia saat ini baru mencapai angka 8 persen. Kondisi ini dinilai belum cukup untuk menghadapi tantangan ketenagakerjaan nasional.
Wakil Menteri Kemendikbudristek, Prof Stella Christie, menekankan pentingnya ekspansi dan penguatan pendidikan vokasi untuk menjawab dinamika industri sekaligus menyerap bonus demografi yang sedang berlangsung. “Kalau kita ingin melewati jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), kita harus memperkuat vokasi,” ungkapnya dalam forum diskusi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Rabu (18/6/2025).
Ia menyebut, saat ini Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju seperti Jerman dan Swiss. Kedua negara tersebut memiliki pendidikan vokasi yang mendominasi hingga 50–67 persen dari total perguruan tinggi.
Menurut Stella, peran vokasi sangat krusial dalam menyediakan tenaga kerja terampil, khususnya di sektor informal yang mencakup lebih dari 60 persen struktur ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa vokasi adalah mesin adaptif yang mampu bergerak cepat mengikuti perubahan dunia industri.
Salah satu strategi yang kini dijalankan adalah kerja sama internasional melalui skema University to University to Business (U to U to B). Dalam model ini, universitas vokasi di Indonesia bermitra dengan universitas dan industri asing untuk menyusun kurikulum, pelatihan, serta penyaluran tenaga kerja sesuai kebutuhan global.
“Kita sudah mulai dengan PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) yang bekerja sama dengan Liozhong Polytechnic dan industri milling di Tiongkok. Kurikulumnya disesuaikan langsung dengan kebutuhan industri mitra. Bahkan mahasiswa dan dosennya mendapat beasiswa untuk magang dan belajar langsung di sana,” jelas Stella.
Ia juga menegaskan bahwa kemitraan ini bukan sekadar pertukaran pengetahuan, melainkan langkah konkret agar lulusan vokasi Indonesia benar-benar siap pakai di pasar tenaga kerja internasional.
Penulis: Intan
Editor: Lisa