Samarinda, VivaNusantara – Pagi di Toko Kopi Delapan selalu terasa akrab. Di dua gerainya Jalan Antasari dan Jalan Kartini, aroma kopi sudah menyapa sejak pukul 07.00. Kedai yang buka hingga 22.00 malam ini dirancang sebagai ruang singgah yang hangat, dengan nuansa bergaya Tiongkok yang membuat siapa saja betah berlama-lama; entah itu pekerja kantoran yang mampir sebelum jam masuk, mahasiswa yang mencari tempat membaca, atau komunitas kreatif yang butuh ruang berdiskusi.
Sementara itu, Chaosan Kopitiam yang mengusung tagline “best modern kopitiam in town” menghadirkan suasana yang serupa, tetapi dengan penekanan lebih kuat pada sentuhan kuliner khas Tiongkok. Salah satu yang paling menonjol adalah nasi ayam hainan. Menurut pewarta media ini, sajian tersebut paling pas dinikmati di pagi hari. Dengan campuran jahe di dalamnya memberi rasa hangat yang pelan-pelan menyebar, seperti energi kecil yang menyapa sebelum rutinitas dimulai.
Menu makanan yang sangat beragam membuat Kopi Delapan tidak hanya cocok untuk nongkrong, tetapi juga sebagai tempat makan siang cepat bagi pekerja di sekitar kawasan tersebut.
“Recommended banget sih, kalau saya pribadi suka kwetiaunya,” ujar salah satu pengunjung, Raisa, Sabtu (6/12/2025).
Kopi Delapan menghadirkan konsep kopitiam dari budaya kuliner masyarakat peranakan di Singapura, Malaysia, hingga sebagian kawasan pesisir Sumatera dan Kalimantan. Secara harfiah, kopitiam berasal dari dua kata: “kopi” (bahasa Melayu) dan “tiam” (bahasa Hokkien) yang berarti “kedai”. Chaosan sendiri adalah wilayah kultural dan geografis timur Provinsi Guangdong, Tiongkok.
Kombinasi rasa, atmosfer, dan harga ini menjadi alasan mengapa kedai ini dengan cepat menjadi salah satu titik nongkrong baru dan tempat favorit untuk sarapan hingga makan malam di Samarinda.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa