Home DaerahKota SamarindaKrisis BBM Lumpuhkan Kapal Samarinda–Mahulu, Rakyat Tercekik Dampak Kebijakan Subsidi

Krisis BBM Lumpuhkan Kapal Samarinda–Mahulu, Rakyat Tercekik Dampak Kebijakan Subsidi

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Aktivitas angkutan sungai rute Samarinda–Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) di Pelabuhan Sungai Kunjang lumpuh akibat belum terbitnya surat rekomendasi bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

Sejak Kamis (22/1/2026), kapal-kapal tak lagi beroperasi, memicu efek domino terhadap pekerja kapal, buruh angkut, hingga masyarakat di wilayah hulu Sungai Mahakam.

Puluhan keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor angkutan sungai kini kehilangan sumber penghasilan.

“Sekitar delapan puluh tiga kepala keluarga terdampak. Kalau kapal tidak jalan, kami tidak punya pemasukan. Dalam sehari, kalau ramai bisa dapat seratus ribu, kalau sepi jauh di bawah itu,” ujar seorang buruh kapal di Pelabuhan Sungai Kunjang, Senin (26/1/2026).

Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menjelaskan bahwa selama ini kapal angkutan sungai menggunakan BBM subsidi karena masuk kategori angkutan umum dengan trayek dan jadwal tetap. Namun, berdasarkan ketentuan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), kewenangan penerbitan rekomendasi BBM subsidi oleh pemerintah kota kini terbatas pada kapal bermesin tempel.

“Untuk kapal bermesin dalam atau mesin pendam seperti angkutan Sungai Mahakam, tidak bisa lagi kami layani. Sejak November 2025 kami sudah menyurati Orgamu dan pemilik kapal agar mengurus rekomendasi sesuai aturan BPH Migas,” jelasnya.

Saat ini, Dinas Perhubungan Kota Samarinda bersama Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur masih menunggu terbitnya surat diskresi dari Gubernur Kalimantan Timur kepada BPH Migas. Diskresi tersebut dinilai krusial karena jalur angkutan sungai Samarinda–Mahulu bersifat lintas kabupaten.

“Jika surat dari gubernur direspons BPH Migas, itu bisa menjadi dasar penerbitan kembali rekomendasi BBM subsidi. Saat ini kami masih menunggu,” tambahnya.

Harga BBM dan Sembako Melonjak, Rakyat Terjepit

Di Mahakam Ulu, krisis BBM telah menjelma menjadi krisis ekonomi rakyat. Harga Pertalite di sekitar ibu kota kabupaten dilaporkan mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter. Surutnya Sungai Mahakam memperparah kondisi distribusi, mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok.

“Kelangkaan BBM membuat rakyat menderita dalam segala hal. Harga barang naik, sementara sebagian besar masyarakat tidak memiliki penghasilan tetap. Mereka hidup dari kerja harian,” kata Agustinus Lejiu, salah seorang warga Kubar yang kerap hilir mudik ke Mahulu, kepada VivaNusantara.

Menurutnya, aktivitas ekonomi masyarakat nyaris terhenti. Nelayan tak bisa melaut, warga tidak dapat mengangkut pasir material proyek, perjalanan ke ladang dan kebun pun terhambat.

“BBM langka bukan hanya soal energi, tetapi juga soal hilangnya peluang kerja dan sumber penghidupan,” ujarnya.

Menurutnya, di wilayah pedalaman, situasi lebih memprihatinkan. Di Long Apari, harga beras dilaporkan mencapai Rp1.000.000 per 25 kilogram. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah.

“Pemerintah harus peka dan segera bertindak. Jika dibiarkan, krisis BBM akan berubah menjadi krisis sosial yang menekan kehidupan masyarakat Mahakam Ulu,” tegasnya.(LS)

Editor : TW

You may also like