Home DaerahKota SamarindaMahasiswa Bergerak, TWAP Sambut Gagasan Atasi Sampah dari PMII Samarinda

Mahasiswa Bergerak, TWAP Sambut Gagasan Atasi Sampah dari PMII Samarinda

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Tim Walikota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) baru saja menerima audiensi dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Samarinda, guna membahas isu pengelolaan sampah di Kota Tepian, Rabu (23/7/2025).

Pertemuan ini menjadi tindak lanjut atas diskusi awal mereka dengan Wali Kota Samarinda Andi Harun beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Ketua PMII Samarinda, Taufiq, menyampaikan tiga fokus utama yang menjadi perhatian organisasinya: persoalan sampah di lingkungan kontrakan, rumah kos, area angkringan hingga cafe dan area taman.

Ketiga lokasi ini dianggap sebagai titik rentan yang memerlukan intervensi dan edukasi lebih lanjut, terutama dari kalangan mahasiswa.

“Permasalahan sampah tidak hanya soal tumpukan limbah, tapi ini juga menyangkut kesadaran kolektif. PMII ingin mengambil peran aktif melalui edukasi dan pendampingan langsung di masyarakat,” jelas Taufiq.

Namun demikian, pihaknya mengaku masih menunggu tindak lanjut dari hasil audiensi yang akan segera di koordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda.

Menanggapi hal itu, Ketua TWAP Syaparuddin menyatakan dukungannya terhadap inisiatif PMII. Menurutnya, TWAP siap menjadi jembatan untuk memperkuat sinergi antara PMII dan instansi terkait, terutama DLH.

“Bukan sekadar mitra, kami siap memfasilitasi pemahaman dan koordinasi lintas sektor, terutama dalam penguatan program pemilahan sampah di tingkat masyarakat,” ujar Syaparuddin.

Ia menjelaskan, TWAP tengah mendorong berbagai program strategis termasuk implementasi Perda dan Perwali tentang pengelolaan sampah, yang salah satunya masuk dalam agenda Probebaya. Menurutnya, edukasi masyarakat terkait pemilahan sampah dan pemberdayaan ekonomi dari sampah organik maupun anorganik menjadi kunci dalam mengatasi persoalan lingkungan perkotaan.

TWAP juga mengajak PMII untuk ikut serta dalam program-program seperti “Kampung Salai (Sampah bernilai), di mana sampah tidak hanya dilihat sebagai masalah, melainkan juga potensi ekonomi. Salah satu contohnya adalah pengolahan sampah organik menjadi produk maggot atau kompos, yang memiliki nilai jual dan dapat menambah penghasilan.

“Jika mahasiswa bisa mendalami pola-pola pengelolaan sampah yang sudah berjalan, bukan tidak mungkin mereka bisa menjadi penggerak utama di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like