Samarinda, VivaNusantara – Di era digital, media sosial menjadi panggung baru bagi para pejabat untuk menunjukkan kepedulian, prestasi, dan kedekatan dengan rakyat. Namun, tidak sedikit masyarakat yang mulai jenuh dengan konten-konten pencitraan yang dianggap tidak sejalan dengan kondisi lapangan.
“Di tengah bisingnya media sosial yang saat ini menjadi sumber utama informasi publik, jurnalisme menghadapi tantangan baru dalam menjaga akurasi dan integritas di tengah banjir hoaks dan pencitraan. Jadi pers tetap menjadi penjaga kebenaran, ” ungkap Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kaltim, Tri Wahyuni, Kamis (24/7/2025).
Menurutnya tak bisa dipungkiri saat ini siapa saja bisa menjadi “jurnalis” dengan hanya bermodal akun media sosial di smartphone mereka. Di sisi lain media massa profesional harus berjuang mempertahankan kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi instan.
“Yang kita tahu, kecepatan informasi di medsos ini seringkali tidak diimbangi dengan verifikasi. Disinilah pers berperan besar untuk tetap mentaati kode etik dan mekanisme verifikasi, urgensinya pers menjaga kebenaran di tengah badai disinformasi. Boleh dibilang pers mencari fakta, medsos mengejar viral, dan pers punya etika, sementara medsos punya alogaritma, nah mana yang bisa dipercaya?” lanjut perempuan yang kerap disapa Yuni ini.
Lebih jauh ia menjelaskan, jika akun-akun influencer , selebgram, bahkan pejabat publik yang menyajikan narasi sendiri yang kadang tanpa bisa dikritisi atau diuji fakta, berbeda dengan pers. Media massa memiliki tanggungjawab moral, bukan sekedar memberitakan tapi mencerahkan dan memberikan edukasi kepada masyarakat, mengingat ia adalah pilar demokrasi.

Pengamat komunikasi dan akademisi dari Universitas Mulawarman, Silviana Purwanti
Di sisi lain, pengamat komunikasi dan akademisi dari Universitas Mulawarman, Silviana Purwanti menegaskan, yang sedang terjadi bukan semata perubahan, tapi pergeseran paradigmatik dalam dunia jurnalisme.
“Kalau saya bilang, ini adalah pergeseran. Bukan perubahan, tapi pergeseran. Sebagai akademisi di bidang ilmu komunikasi, khususnya jurnalistik, saya melihat bahwa saat ini sedang terjadi relasi yang makin kentara antara idealisme pers dan realitas ekonomi media,” jelas Silviana.
Menurutnya, media sosial telah menciptakan ruang yang sangat luas untuk kebutuhan branding baik individu, institusi, maupun pemerintah. Namun, konsekuensinya adalah peran media sebagai sumber informasi utama perlahan tergeser.
“Kita melihat banyak produk jurnalistik hari ini yang tidak lagi murni mengedepankan kepentingan publik. Mereka mulai tersandera oleh logika algoritma dan kebutuhan promosi. Ini tantangan nyata, bukan hanya untuk jurnalis, tapi juga bagi pembaca,” pungkasnya.
Penulis: Intan
Editor: Lisa