Samarinda, VivaNusantara – Rencana investasi energi hijau di Samarinda mulai menarik perhatian investor asing. Salah satunya datang dari Shanghai SUS International, perusahaan asal Tiongkok yang tengah menjajaki peluang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Tepian.
Asisten II Sekretaris Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menyebutkan bahwa pembahasan proyek ini masih berada pada tahap penjajakan awal. Meski begitu, arah kerja sama sudah mulai terbentuk dengan fokus pada efisiensi teknologi dan sinergi antarwilayah.
“Ini bukan sekadar proyek pengelolaan sampah. Ini investasi jangka panjang untuk energi bersih dan kemandirian kota,” kata Marnabas, Senin (13/10/2025).
Rencana lokasi pembangunan PLTSa diarahkan ke kawasan Loa Janan Ilir, tepatnya di lahan milik PT SLJ Global Tbk (SULI). Langkah ini dinilai efisien karena tidak memerlukan penyediaan lahan baru dari pemerintah daerah.
Saat ini, Pemkot Samarinda masih menunggu proposal resmi dari pihak investor asal Tiongkok tersebut. Dokumen itu akan menjadi dasar dalam penyusunan skema kerja sama dan kajian teknis lanjutan.
“Begitu proposal masuk, kami akan pelajari struktur kerja sama, pola pembiayaan, dan manfaat ekonomi yang bisa didapat daerah,” ujarnya.
Untuk menjaga pasokan bahan baku minimal 1.000 ton sampah per hari, Pemkot Samarinda berencana bekerja sama dengan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kolaborasi ini diharapkan bisa mencapai total pasokan hingga 2.000 ton per hari, sehingga pembangkit dapat beroperasi secara optimal.
Selain dari daratan, sumber sampah dari Sungai Mahakam juga dipertimbangkan. Pemkot tengah menyiapkan rencana pengadaan kapal pengangkut sampah sungai untuk memperkuat rantai pasokan bahan baku energi tersebut.
Marnabas menilai, pembangunan PLTSa akan menjadi langkah penting dalam mengubah arah kebijakan energi Samarinda menuju kemandirian dan keberlanjutan.
“Ini bukan proyek jangka pendek. PLTSa akan menjadi fondasi masa depan kota yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa