Home DaerahKota SamarindaRentan Dieksploitasi di Dunia Maya, Diskominfo Kaltim Dorong Penguatan Literasi Digital

Rentan Dieksploitasi di Dunia Maya, Diskominfo Kaltim Dorong Penguatan Literasi Digital

by Redaksi
0 comments

Di tengah maraknya kasus kekerasan dan eksploitasi seksual di ruang daring, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, menyoroti lemahnya pemahaman media terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Yang jadi sasaran banyak ini, perempuan dan anak di bawah umur,” ujar Faisal kepada pewarta media ini, di Kantor Diskominfo Kaltim, Senin (19/5/2025).

Ia menegaskan bahwa meski tidak semua wilayah Kaltim mengalami kasus serupa, namun tren ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi saat ini berbagai kasus rentan dibesar-besarkan tanpa memperhatikan dampak psikologis terhadap korban.

Saat ini Diskominfo Kaltim juga tengah menyiapkan sosialisasi masif kepada media dan wartawan terkait batasan dalam memberitakan kasus yang melibatkan anak.

“Kadang kasus kecil bisa jadi besar karena kelalaian media menyebutkan identitas, alamat, bahkan sekolah korban,” tegasnya.

Faisal juga menyampaikan bahwa baru-baru ini pihaknya telah bertemu dengan Komisi Perlindungan Anak guna menyusun langkah preventif. Salah satunya dimulai dari literasi hukum bagi pelaku media, sebelum menjangkau komunitas-komunitas digital.

“Kami tidak ingin kembali ke zaman bungkam, tapi ingin ada tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Jangan sampai anak yang jadi korban, malah dipermalukan dua kali,” ujarnya.

Ia menilai bahwa kehadiran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) di setiap daerah harus benar-benar dimaksimalkan.

“Jangan biarkan anak dan perempuan terus jadi korban di balik layar ponsel dan kelalaian sistem,” tegas Faisal.

Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, menambahkan bahwa upaya perlindungan juga harus didorong dari sisi penegakan hukum digital.

Ia meminta agar Kepolisian aktif melakukan patroli siber untuk memburu akun-akun penyebar konten asusila dan predator daring.

“Banyak grup WhatsApp tertutup yang sulit dilacak tapi jadi sarang penyebaran konten berbahaya. Kita khawatir, dari rasa penasaran, anak-anak atau remaja bisa terjerumus dan kecanduan,” ungkap Samri.

Ia juga mengingatkan bahwa perempuan kerap jadi korban utama, meski dalam banyak kasus, laki-laki pun tidak luput.

Masalah semakin pelik ketika rasa malu membuat korban enggan bicara. “Laki-laki pun ada yang mengalami itu. Tapi biasanya korban laki-laki tidak bersuara karena malu. Sedangkan perempuan, lebih rentan trauma berkepanjangan karena tekanan sosial,” tutup Samri.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like