Samarinda, VivaNusantara – Penerapan Sistem Satu Arah (SSA) di Jalan Abul Hasan, Samarinda, menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Meski kebijakan ini dianggap menjadi upaya melancarkan arus lalu lintas, sejumlah pelaku usaha kecil, mahasiswa, hingga pengemudi angkutan umum mengaku merasakan dampak yang tidak ringan.
Acil, pemilik Warung Kandangan yang sudah berdiri sejak 2018 di Gang 6 Jalan Abul Hasan, menyebut kebijakan ini justru menyulitkan warga sekitar. Ia mengingat masa ketika jalan tersebut sempat pernah dibuat satu arah, lalu kembali ke dua arah, dan kini dikembalikan lagi ke sistem lama.
“Menurut saya lebih bagus dua arah. Kasihan juga yang rumahnya di kanan, bingung parkir di mana. Saya sudah 7 tahun jualan, tinggal di sini sudah 60 tahun. Jadi terasa sekali perubahannya. Susah, orang singgah ke warung jadi berkurang,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Ia juga menyebut, para sopir angkot yang biasa mangkal di kawasan itu kini makin sulit mendapatkan penumpang. “Angkot bilang repot, mutar jauh, penumpang bisa marah. Ditambah kalah sama ojek online, makin rugi saja mereka,” imbuhnya.
Pandangan senada datang dari Madi, seorang pengemudi ojek online. Ia menilai SSA membuat pekerjaan semakin berat.
“Kalau satu arah, jadi lebih jauh, bensin boros, pelanggan bisa menunggu lebih lama. Kami di lapangan yang paling terasa dampaknya,” katanya.
Di sisi lain, mahasiswa asal Palaran bernama Jeje menilai SSA memang membantu mengurangi kepadatan, tetapi tetap membawa konsekuensi.
“Kalau lewat jalur baru harus kena lampu merah lagi, jadi lebih lama. Kalau lewat Abul Hasan kan bisa langsung. Kalau saya kasih nilai, 5 dari 10 lah. Ribet, tapi masih bisa dimaklumi demi kelancaran lalu lintas,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa