Samarinda, VivaNusantara – Program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial RI mulai menarik minat keluarga prasejahtera di Samarinda. Meski harus menyesuaikan ulang jenjang pendidikan, sejumlah orang tua dan siswa menyatakan siap mengikuti sistem asrama yang ditawarkan.
Muhammad Randi Arsil (15), salah satu siswa asal Bayur, mengaku mendapat informasi saat menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namanya tercatat dalam data penerima, yang kemudian diverifikasi langsung ke rumah oleh tim pendataan Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda.
“Orang tua saya setuju saja, karena memang niatnya ingin saya lebih mandiri. Katanya nanti tinggal di asrama, semua fasilitas seperti makan dan pakaian ditanggung,” tutur Randi, yang sebelumnya bersekolah di SMP 47 Samarinda, Senin (14/7/2025).
Randi, yang juga terbiasa bekerja paruh waktu sebagai pramusaji dan aktif berlatih voli, melihat program ini sebagai kesempatan untuk fokus belajar. “Selama ini tinggal di Bayur, susah kalau sekolah jauh. Sekarang bisa lebih fokus,” bebernya.
Hal serupa diungkapkan Rahimah (39), warga Gang 2 M Said, yang mendaftarkan putranya Reyhan ke jenjang SMP di SR. Ia mendapat informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Karena tidak ada kendaraan untuk antar jemput, saya setuju anak saya tinggal di asrama. Harapannya dia bisa sekolah sampai selesai dan capai cita-citanya,” ujar ibu empat anak itu.
Reyhan sebelumnya sudah kelas 2 SMP, namun harus mengulang ke kelas 1 karena sistem baru SR. “Tidak apa-apa, yang penting anak saya bisa sekolah terus,” terangnya.
Sementara itu, Mutia Shilda Yusfa, salah satu guru matematika di sekolah rakyat asal Kota Tepian, menjelaskan bahwa sebagian besar pengajar direkrut dari lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ia sendiri merupakan peserta PPG Gelombang 2 tahun 2023.
“Rekrutmennya lewat aplikasi pemetaan. Ada pilihan bersedia atau tidak mengajar di SR. Saya pilih bersedia karena ingin mengabdi,” jelasnya.
Mutia mengampu pelajaran matematika untuk jenjang SMP dan SMA. Ia tidak tinggal di asrama karena rumahnya dekat dari sekolah. Ia menambahkan, kurikulum yang digunakan berbeda dari Kurikulum Merdeka.
“Kami baru pelatihan, jadi masih adaptasi. Tapi semangat kami sama, ingin mendampingi anak-anak agar bisa belajar dengan layak,” pungkasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa