Samarinda, VivaNusantara — Dalam kehidupan sehari-hari, manusia rata-rata mengucapkan sekitar 16.000 kata. Namun, jumlah kata yang didengarkan bisa lebih banyak, yakni antara 20.000 hingga 30.000 kata per hari. Meskipun demikian, kecenderungan untuk lebih banyak berbicara masih mendominasi cara manusia berkomunikasi. Hal ini bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga telah menjadi objek kajian dalam ilmu psikologi dan neurosains.
Penelitian dari Harvard University mengungkap, manusia cenderung merasa lebih disukai ketika mereka berbicara lebih dari separuh waktu dalam percakapan. Studi ini, yang dilakukan oleh Gus Cooney dan rekan-rekannya, menunjukkan peserta yang mendominasi percakapan justru dinilai lebih menyenangkan oleh lawan bicara mereka, bertolak belakang dengan asumsi bahwa ‘terlalu banyak bicara’ membuat orang tidak nyaman.
Manusia berpikir lebih cepat daripada berbicara, sehingga banyak yang tak sabar untuk segera menyampaikan isi pikiran.
Rata-rata otak manusia mampu memproses 400 kata per menit, sementara kecepatan bicara hanya 125–150 kata per menit. Ketimpangan ini membuat otak ‘gatal’ untuk terus menyalurkan ide melalui ucapan.
Namun, komunikasi bukan hanya soal bicara. Data dari WordsRated menyebut, sekitar 45% dari waktu komunikasi kita dihabiskan untuk mendengarkan, sedangkan hanya 30% untuk berbicara.
Sayangnya, kemampuan mendengarkan aktif yang mencakup pemahaman emosional, empati, dan penangkapan makna non-verbal masih minim dimiliki banyak orang.
Albert Mehrabian, profesor psikologi dari UCLA, menekankan, hanya 7% dari pesan emosional yang disampaikan melalui kata-kata, sementara sisanya berasal dari nada suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Artinya, kualitas komunikasi tak bisa dilepaskan dari kemampuan mendengar secara utuh, bukan hanya secara verbal.
Berbagai pakar pun menyarankan agar masyarakat mulai mengasah keterampilan mendengarkan aktif, terutama dalam lingkungan kerja, pendidikan, dan keluarga. Sebab, mendengar bukan hanya soal diam, tetapi juga soal hadir secara mental dan emosional.
Wardah, seorang mahasiswi sekaligus jurnalis muda, mengaku lebih nyaman berperan sebagai pendengar.
“Saya lebih suka mendengarkan karena dari situ saya bisa memahami orang, bukan hanya sekadar merespons. Jadi, saya tidak perlu bicara banyak untuk bisa dekat dengan orang lain,” ujarnya.
Wardah bukan satu-satunya. Dalam survei informal terhadap remaja dan dewasa muda, sebanyak 62% menyatakan mereka lebih menghargai lawan bicara yang mampu mendengarkan dengan tulus, dibandingkan yang hanya banyak bicara.
Fenomena ini juga relevan dalam konteks relasi sosial di era digital. Saat media sosial memudahkan siapa pun untuk bicara, kemampuan untuk mendengar justru menjadi keterampilan langka dan semakin berharga.
Penulis: Intan
Editor: Lisa