Home DaerahKota SamarindaSurat Edaran Wali Kota dan Tantangan Mengakhiri Fatherless di Samarinda

Surat Edaran Wali Kota dan Tantangan Mengakhiri Fatherless di Samarinda

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Fenomena fatherless yang kian menguat di Indonesia ikut disorot di Samarinda. Menyikapi kondisi tersebut, Wali Kota Samarinda menerbitkan Surat Edaran Gerakan Ayah Mengambil Rapor, sebuah kebijakan yang menyasar langsung keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, yang selama ini dinilai masih minim.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 400.13/3911/100.19 yang menekankan bahwa persoalan fatherless bukan semata ketiadaan ayah secara fisik, melainkan juga minimnya keterlibatan emosional ayah dalam kehidupan anak, meskipun masih tinggal dalam satu rumah.

Dalam latar belakang surat edaran dijelaskan, hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025 menunjukkan bahwa satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia berada dalam kondisi fatherless, dengan persentase mencapai 25,8 persen. Angka ini dinilai menjadi alarm serius bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia ke depan.

Pemerintah Kota Samarinda menilai keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, termasuk dalam momen sederhana namun bermakna seperti pengambilan rapor, dapat berdampak signifikan terhadap motivasi belajar, kepercayaan diri, serta kesiapan psikologis anak dalam menjalani proses pendidikan.

Melalui gerakan ini, pemerintah ingin mendorong perubahan pola pengasuhan yang selama ini cenderung bertumpu pada peran ibu, menuju model yang lebih kolaboratif dan setara antara ayah dan ibu. Kehadiran ayah di ruang-ruang pendidikan anak diharapkan tidak lagi bersifat simbolik, melainkan menjadi bagian dari budaya pengasuhan baru.

Namun demikian, implementasi kebijakan ini di lapangan tampaknya masih memerlukan waktu dan sosialisasi lebih lanjut. Seorang guru di salah satu SMP swasta di Samarinda mengaku belum mendapatkan informasi resmi terkait pelaksanaan gerakan tersebut di sekolahnya.

“Sejauh ini belum ada arahan atau pemberitahuan khusus di tempat kami,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Rabu (17/12/2025).

Di sisi lain, respons positif datang dari kalangan orang tua. Ardiansyah, seorang ayah yang tinggal di kawasan Sungai Pinang menilai gerakan ini sebagai langkah yang baik untuk mengingatkan kembali peran ayah yang kerap terpinggirkan oleh rutinitas pekerjaan.

“Selama ini urusan sekolah identik dengan ibu. Padahal, anak juga butuh tahu bahwa ayahnya peduli dan hadir. Kalau ini benar-benar dijalankan, saya kira dampaknya bagus, bukan cuma untuk anak, tapi juga untuk hubungan dalam keluarga,” ungkapnya.

Gerakan Ayah Mengambil Rapor bukan sekadar soal siapa yang datang ke sekolah, melainkan pesan simbolik tentang kehadiran, tanggung jawab, dan keterlibatan emosional ayah dalam tumbuh kembang anak. Tantangannya kini terletak pada konsistensi pelaksanaan dan kesiapan sekolah untuk menjadikan gerakan ini bukan hanya imbauan administratif, tetapi praktik nyata dalam ekosistem pendidikan.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like