Samarinda, VivaNusantara — Sungai Mahakam akhirnya “mengembalikan” Azzam Arahan. Setelah tiga hari hilang terseret arus, bocah berusia 7 tahun itu ditemukan oleh tim SAR gabungan di sekitar kawasan Jembatan Mahkota II, Samarinda, Rabu (29/1/2026). Namun, Azzam pulang dalam keadaan tak lagi bernyawa.
Tubuh mungilnya ditemukan masih mengenakan baju putih bergambar dinosaurus, pakaian yang terakhir kali dipakainya saat bermain di tepian sungai. Di balik seragam sekolah dan gambar dinosaurus itu, ada seorang anak yang beberapa hari lalu masih berlarian, tertawa, dan pulang ke rumah seperti biasa.
Sejak Senin (26/1/2026) siang, keluarga Azzam hidup dalam penantian yang melelahkan. Di tepi Sungai Mahakam, mereka bertahan, menatap arus yang tak pernah berhenti, berharap keajaiban datang dari setiap gelombang yang lewat.
Pencarian dilakukan tanpa jeda. Siang hari, tim SAR menyelam di air keruh Mahakam, menembus arus yang kuat. Malam hari, perahu-perahu kecil bergerak pelan, lampu-lampu menyapu permukaan sungai yang gelap. Setiap titik disisir, setiap arus diikuti, seolah waktu berhenti di antara harap dan cemas.
Basarnas bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan warga setempat terlibat dalam operasi pencarian. Bagi mereka, pencarian Azzam bukan sekadar tugas, tetapi juga perjuangan kemanusiaan.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi, mengatakan korban ditemukan di sekitar kawasan Jembatan Mahkota II setelah pencarian intensif selama tiga hari.
“Korban ditemukan dan langsung dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga,” ujarnya.
Saat kabar penemuan itu sampai ke tepian sungai, tangis pecah. Harapan yang selama tiga hari dipeluk erat berubah menjadi duka yang tak terucap. Warga yang sejak awal ikut membantu pencarian terdiam, sebagian menundukkan kepala, sebagian lain tak kuasa menahan air mata.
Di media sosial, empati warga Samarinda mengalir deras. Sebuah unggahan di grup Facebook warga Loa Janan yang sempat viral berbunyi, “Sungai Mahakam, tolong antarkan Azzam pulang.”
Kini, Sungai Mahakam benar-benar mengantarkan Azzam pulang, meski dengan cara yang paling menyakitkan.
Kepergian Azzam bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga luka bagi lingkungan sekitar. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Sungai Mahakam, yang selama ini menjadi sumber kehidupan, juga menyimpan bahaya yang tak bisa dianggap sepele.
Di rumah duka, seorang anak kecil yang gemar bermain dan bercita-cita sederhana kini tinggal dalam kenangan. Di Sungai Mahakam, arus tetap mengalir. Tetapi bagi keluarga Azzam, waktu seolah berhenti di hari ketika sang anak tak pernah kembali.(LS)
Editor : Lisa