Samarinda, VivaNusantara – Trauma sering dianggap sebagai “masa lalu yang menyakitkan”, sesuatu yang kalau sudah lewat, seharusnya bisa segera dilupakan. Padahal, kita keliru jika menyederhanakan trauma sebagai luka yang bisa hilang dengan sendirinya. Pemahaman seperti itu justru sering membuat proses pemulihan jadi makin sulit.
Banyak orang berpikir waktu adalah penyembuh terbaik. Namun menurut artikel Halodoc, trauma emosional bisa menetap dan menimbulkan dampak berkepanjangan bila tidak ditangani secara aktif. Trauma bukan sekadar pengalaman buruk, tetapi respons berkepanjangan yang mengganggu emosi, fisik, dan cara seseorang menjalani hidup.
Sementara itu, dalam ulasan Satu Persen tentang trauma healing, pemulihan tidak bisa terjadi hanya dengan “move on”. Ada tiga fase pemulihan: membangun rasa aman, memproses kembali ingatan traumatis, dan membangun kembali hubungan sosial. Proses ini membutuhkan waktu dan dukungan, dan tidak ada pola yang sama untuk semua orang karena setiap luka emosional punya kedalaman masing-masing.
Dan inilah yang sering tidak kita sadari, penyembuhan dari trauma bukan kompetisi, bukan tuntutan, dan bukan ukuran kekuatan mental. Terlalu sering masyarakat menekan korban dengan kalimat “harusnya kamu sudah bangkit”, tanpa tahu betapa berat proses pemulihan sedang berlangsung di dalam diri seseorang.
Untuk memahami bagaimana trauma dipandang oleh generasi muda, jurnalis berbincang dengan Katan (23), seorang mahasiswa yang pernah menjalani terapi setelah mengalami peristiwa traumatis pada usia remaja.
“Yang paling nyakitin itu bukan traumanya… tapi waktu orang bilang ‘udah lah, lupain’. Padahal kalau bisa lupa, dari dulu aku sudah lupa. Trauma bukan memori yang bisa dihapus. Dia harus dihadapi pelan-pelan,” ujarnya.
Menurutnya, trauma healing bukan tentang menjadi “seperti dulu lagi”, melainkan mengambil kembali hidup yang sempat direbut oleh rasa takut.
“Setiap langkah kecil itu pencapaian. Bahkan hari ketika aku cuma bisa bangun dari kasur pun itu progres. Trauma bikin kita ngulang belajar hidup — dan itu nggak apa-apa.”
Trauma bukan kelemahan. Trauma bukan drama. Trauma bukan alasan untuk menghakimi.
Pemulihan bukan soal kecepatan, tetapi keberanian menghadapi rasa sakit secara perlahan. Selama ini kita salah paham soal trauma karena kita terlalu menuntut “penyembuhan cepat”, padahal healing punya ritme masing-masing.
Dan seperti kata Katan tadi, menyembuhkan trauma bukan soal melupakan tetapi soal mengembalikan kendali hidup yang sempat hilang.
Penulis: Intan
Editor: Lisa