Samarinda, VivaNusantara – Prevalensi stunting di Kota Samarinda tercatat mengalami penurunan 4,1 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Dari sebelumnya 24,4 persen pada tahun 2023, kini turun menjadi 20,3 persen pada 2024.
Penurunan ini menjadikan Samarinda sebagai kota dengan progres tercepat kedua dalam penanganan stunting se-Kalimantan Timur. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah, komunitas masyarakat, hingga kader kesehatan di tingkat kelurahan.
Langkah yang ditempuh tak sekadar mengejar angka, melainkan membangun pemahaman kolektif akan pentingnya gizi, sanitasi, dan pola pengasuhan sejak dini, khususnya di periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Ketika semua unsur masyarakat bersinergi, hasil yang diraih pun bisa nyata,” kata Waode Rosliani, Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Samarinda, Rabu (11/6/2025).

Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Samarinda, Waode Rosliani.
DPPKB merancang layanan terpadu di Posyandu agar masyarakat bisa mengakses layanan dalam satu waktu. Dalam satu hari pelayanan, warga dapat melakukan penimbangan anak, mendapat penyuluhan gizi, mengikuti kelas pengasuhan dalam program Bina Keluarga Balita (BKB), hingga pemantauan pertumbuhan anak.
Dengan pendekatan ini, pendataan jadi lebih presisi dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat jika ditemukan anak berisiko stunting. Keluarga juga diberikan edukasi mengenai pentingnya masa 1.000 HPK secara langsung oleh kader di lapangan.
Upaya pencegahan bahkan dimulai sejak masa remaja. DPPKB menggencarkan edukasi konsumsi tablet tambah darah pada siswi SMP. Namun, tantangan muncul karena sebagian remaja enggan meminumnya akibat rasa mual. Strategi pun diubah: penyuluhan dilakukan secara lebih intensif, menyarankan konsumsi tablet di malam hari setelah makan, serta melibatkan peran aktif komite sekolah dan orang tua.
Waode mengingatkan, dinamika mobilitas penduduk Samarinda menjadi tantangan tersendiri. Jika tidak dikawal dengan baik, angka stunting dapat kembali meningkat.
“Target nasional 2025 adalah 18,8 persen. Tapi kami ingin Samarinda menjadi kota yang benar-benar ramah bagi tumbuh kembang anak,” pungkasnya.
Penulis: Intan
Editor: Lisa