Samarinda, VivaNusantara – Kasus memilukan baru saja dialami seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun. Ia ditemukan dalam kondisi mengenaskan, kaki diborgol dengan rantai besi. Hal ini ditengarai dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri.
Kasus ini pun langsung mendapat perhatian Wakil Wali (Wawali) Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri. Orang nomor dua di Samarinda itu pun dibuat geram dengan kasus ini. Bahkan yang lebih menyayat hati, anak tersebut ternyata belum pernah bersekolah sama sekali sejak lahir.
Saefuddin langsung mendatangi Polsek Sungai Pinang untuk memastikan kondisi korban. Ia mengecam keras tindakan sang ayah yang tidak hanya melakukan kekerasan fisik, tetapi juga mengabaikan hak pendidikan dan tumbuh kembang anak.
“Apapun alasannya, memperlakukan anak seperti ini tidak bisa diterima. Ini bukan sekadar kekerasan, tapi pengingkaran terhadap masa depan anak. Negara tidak boleh abai,” tegas Saefuddin, Kamis (24/7/2025).
Bagi Saefuddin, kasus ini adalah cermin buram dari lemahnya pengawasan sosial di lingkungan sekitar. Ia mempertanyakan kepekaan masyarakat terhadap kondisi anak-anak di sekitarnya, apalagi di era keterbukaan seperti sekarang.
“Anak ini sudah delapan tahun hidup, tapi belum pernah merasakan bangku sekolah. Apa tidak ada yang peduli? Kita harus akui, ada yang salah dari sistem dan kepedulian kita,” ucapnya kecewa.
Ia pun langsung menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda dan pihak kelurahan untuk segera mengurus dokumen kependudukan anak tersebut, agar bisa masuk sekolah sesegera mungkin. Ia menekankan, membebaskan anak dari rantai hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan ia mendapatkan masa depan yang layak.
“Kita harus selamatkan masa depannya. Jangan sampai anak ini menjadi korban dua kali, korban kekerasan, lalu korban sistem yang lamban bergerak,” ujar Saefuddin.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam perlindungan anak. Ia meminta warga untuk tidak tinggal diam bila melihat kejanggalan, sekecil apa pun, di lingkungan sekitar mereka.
“Jangan berpikir itu bukan urusan saya. Keselamatan anak adalah urusan kita semua. Kalau ada yang mencurigakan, laporkan. Kita tidak boleh menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga hanya karena itu urusan pribadi,” pesannya tegas.
Lanjutnya, budaya diam adalah salah satu faktor yang membuat kekerasan terhadap anak terus berulang. Ia mendorong semua RT, tokoh masyarakat, dan tetangga untuk tidak ragu melaporkan kasus serupa.
“Kalau kita semua diam, lalu apa gunanya negara hadir? Anak-anak seperti ini tidak butuh simpati sesaat, mereka butuh perlindungan nyata,” pungkasnya.
Saat ini, anak tersebut berada dalam pengawasan Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Samarinda. Nantinya ia juga akan mendapatkan pendampingan psikologis. Sementara ayah kandungnya telah diamankan dan sedang dalam proses hukum.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa