Home InternasionalBanjir Thailand Tewaskan 162 Warga, Kepala Daerah Dicopot, Warga Berjuang Sendiri di Tengah Kepanikan

Banjir Thailand Tewaskan 162 Warga, Kepala Daerah Dicopot, Warga Berjuang Sendiri di Tengah Kepanikan

by Redaksi
0 comments

Thailand, VivaNusantara-Thailand kembali berduka. Banjir bandang yang menyapu kawasan selatan negeri Gajah Putih sejak 19 November 2025 kini menelan sedikitnya 162 korban jiwa hingga Minggu (30/11/2025) kemarin. Di tengah genangan yang menutup jalan, rumah, dan harapan warga, pemerintah mengakui ada yang tak berjalan sebagaimana mestinya.

Sebagaimana dilansir AP News, data dari Departemen Irigasi Kerajaan menunjukkan betapa ekstremnya bencana kali ini. Hujan 630 milimeter dalam tiga hari—angka yang memecahkan rekor banjir besar Hat Yai tahun 2010—menjadikan Songkhla sebagai episentrum krisis. Dalam hitungan jam, wilayah-wilayah padat penduduk berubah menjadi lautan cokelat berlumpur, menenggelamkan rumah, sekolah, dan pasar yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah situasi genting itu, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, tampil dan menyampaikan permintaan maaf kepada rakyatnya. Ia mengakui pemerintah kurang sigap dan belum mampu melindungi warganya sebagaimana seharusnya. Anutin menyebut telah turun langsung ke daerah terdampak dan berjanji mempercepat penanganan.

“Ini kekurangan kami,” ujarnya lirih. “Saya meminta maaf kepada seluruh warga yang terdampak.”

Pemerintah kini berfokus pada penyaluran bantuan: dari paket makanan hingga kompensasi maksimal 2 juta baht (sekitar Rp1 miliar) bagi keluarga korban meninggal. Tim penyelamat juga terus membersihkan reruntuhan dan membuka akses-akses yang sebelumnya terputus.

Namun di balik upaya itu, publik Thailand diguncang kabar lain: pencopotan Kepala Distrik Hat Yai, Eak Young-Apai Na Songkhla, serta pemindahtugasan kepala kepolisian setempat.
DPA menyebut Eak “menghilang” sejak 22 November—sebuah tuduhan yang memicu kemarahan warga karena menghambat distribusi bantuan pada hari-hari paling krusial.

Tetapi Eak membalas keras tuduhan itu. Dalam sebuah unggahan di Facebook, ia menuliskan kalimat yang sarat frustrasi namun juga harapan.

“Hanya ada satu kebenaran,” tulisnya. “Saya tetap berada di wilayah setiap hari. Air setinggi tiga meter, listrik padam, tidak ada sinyal, tidak ada internet. Saya tidak bisa menelepon dan tidak bisa keluar. Tapi saya tidak pernah meninggalkan masyarakat. Saya membantu mereka semampu saya.”

Kisah Eak membuka bab lain dari bencana: bagaimana pejabat, warga, dan pemerintah berusaha bertahan di tengah komunikasi yang terputus, logistik yang tersendat, dan tekanan publik yang menuntut kehadiran negara.

Sementara itu, ribuan keluarga masih berjibaku memunguti sisa-sisa kehidupan mereka. Di pos-pos pengungsian, anak-anak tidur di atas tikar tipis, sementara orang tua mereka menunggu kabar tentang rumah yang mungkin tak lagi berdiri.

Bagi warga Thailand, ini bukan sekadar banjir—melainkan ujian terbesar dalam satu dekade terakhir.
Dan bagi pemerintah, ini adalah peringatan keras bahwa kecepatan bertindak bisa jadi penentu antara hidup dan kehilangan.

Sumber : AP News
Penulis : Ellysa
Editor : Tri Wahyuni

You may also like