Jawa Timur, VivaNusantara- Baru-baru ini beredar vidio yang diduga PHK massal yang terjadi di PT Gudang Garam Tuban. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin sebuah pabrik rokok yang produknya masih laris di pasaran justru melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ratusan buruhnya?
Bagi sebagian orang, jawabannya sederhana: ini bukan soal rokok laku atau tidak, tetapi soal bagaimana perusahaan bertahan di tengah tekanan regulasi dan perubahan zaman. Kenaikan cukai rokok dari tahun ke tahun membuat biaya produksi melonjak. Di sisi lain, mesin modern mulai menggantikan ribuan buruh linting yang selama ini menjadi tulang punggung pabrik.
Masyarakat juga melihat adanya perubahan pola konsumsi. Generasi muda mulai beralih ke vape dan produk nikotin alternatif. Walaupun rokok kretek masih diminati, pangsa pasarnya mulai tergerus. Di tengah persaingan antarperusahaan besar, strategi efisiensi dengan mengurangi tenaga kerja kerap dipilih manajemen.
Namun bagi publik, alasan apa pun tetap menyisakan luka. PHK bukan sekadar angka, melainkan kisah keluarga yang kehilangan penghasilan, anak-anak yang terancam pendidikannya, dan ekonomi rumah tangga yang goyah.
Oleh karena itu, publik berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada janji 19 juta lapangan kerja, tetapi menghadirkan solusi nyata bagi para pekerja yang terpaksa tersingkir oleh mesin, regulasi, dan kerasnya persaingan industri. Karena di balik sebatang rokok yang masih laris, ada ribuan tangan yang kehilangan masa depannya.
Penulis : TW
Editor : Lisa