Catatan dari Kantin Pak Usman di Tengah Kemarau El Nino
Samarinda, 16 September 2026
Oleh: Kismanto Sastroamidjojo
Saya mulai tulisan ini dari Kantin Pak Usman di kantor TWAP, ruang informal tempat akademisi dan tenaga ahli pendamping Pemkot biasa melepas bahasa laporan dan berbicara lebih manusiawi.
Kemarin, Selasa (15/9/2026), sepulang dari lapangan, satu pertanyaan terus mengganggu pikiran saya:
Berapa banyak sungai mati yang sudah kita hidupkan kembali, dan mengapa justru ketika kemarau datang, sungai-sungai kecil itu kembali menentukan daya tahan sebuah kota?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika melihat kondisi Samarinda hari ini.
Pemkot memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan hingga 21 September 2026. Waduk Benanga surut. Di Mahakam, intrusi air asin bergerak lebih jauh ke hulu ketika debit sungai utama melemah. Sejumlah intake PDAM Perumda Tirta Kencana pun terganggu.
Di saat yang sama, hingga pertengahan September tercatat 185 kejadian karhutla dengan luas terdampak lebih dari 382 hektare, antara lain di Palaran, Sambutan dan Samarinda Utara.
Pemerintah bahkan menjalankan operasi modifikasi cuaca pada 15–19 September dengan pesawat Cessna Grand Caravan untuk membantu memicu hujan.
Ikhtiar itu penting. Tetapi ada pertanyaan sederhana:
Mengapa kita begitu sibuk mencari air ketika cadangan air di darat sudah semakin menipis?
27 sungai yang menopang kota
Di tengah krisis itulah 27 sungai dan anak sungai yang tercatat di Samarinda perlu dilihat kembali.
Jaringan itu bukan sekadar nama di peta. Sebagian besar selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk pertanian dan kebutuhan MCK. Sebagian masih mengalir, sebagian menyusut, dan sebagian lainnya ikut mengering ketika kemarau berkepanjangan.
Data yang tercatat di lingkungan Pemkot Samarinda mencakup:
Sungai besar di dalam kota:
1. Sungai Karang Mumus — 34,7 kilometer, membelah kota dan menjadi salah satu sungai terpenting Samarinda.
2. Sungai Karang Asam Besar — 18,8 kilometer.
3. Sungai Palaran — 13,5 kilometer, di kawasan Handil Bakti.
Sungai kecil dan anak cabang:
4. Sungai Sambutan.
5. Sungai Loa Bakung — 6,8 kilometer.
6. Sungai Muang — 6,8 kilometer, kawasan Muang Lama.
7. Sungai Lempake — 6,2 kilometer.
8. Sungai Manggis — Air Hitam.
9. Sungai Ampera — Pulau Atas.
10. Sungai Simpang Pasir — Handil Bakti.
11. Sungai Lais — Sungai Kapih.
12. Sungai Tanah Merah — Lempake.
13. Sungai Tunggul — Handil Sambutan.
14. Sungai Binangat — Lempake.
15. Sungai Bayur — Sempaja.
16. Sungai Siring — 4,4 kilometer.
17. Sungai Loa Buah — Loa Buah.
18. Sungai Loa Janan — Sengkotek.
19. Sungai Mangkujenang — Simpang Pasir.
20. Sungai Selindung — Lempake.
21. Sungai Karang Asam Kecil — 3 kilometer, Teluk Lerong Ilir.
22. Sungai Rapak Dalam.
23. Sungai Loa Hui — Harapan Baru.
24. Sungai Lantung — 2 kilometer, cabang Karang Mumus.
25. Sungai Lubang Putang — cabang Karang Mumus.
26. Sungai Lingai.
27. Sungai Kerbau — 1,2 kilometer, Selili.
Khusus kawasan Loa Janan Ilir/Harapan Baru, terdapat Sungai Loa Hui dan Sungai Loa Janan yang menjadi bagian dari jaringan air kawasan.
Angka 27 itu penting bukan karena jumlahnya semata.

Kampung Muang Dalam Lempake
Ia menunjukkan bahwa Samarinda memiliki jaringan air yang jauh lebih luas daripada sekadar Mahakam dan beberapa sungai besar yang selama ini lebih sering kita lihat.
Masalahnya, jaringan tersebut sedang menghadapi tekanan yang sama: kemarau.
Sungai kecil, fungsi besar
Beberapa koridor sungai yang pernah ditata—seperti kawasan Gang Nibung dan Ruhui Rahayu pada sistem Karang Mumus, Kanal Sodetan yang menghubungkan DAS IAIN dengan kawasan Haji Saleh di Loa Janan Ilir, serta koridor Saluran Primer D.I. Panjaitan di sekitar Sungai Pinang—menunjukkan bahwa aliran kecil tetap memiliki arti ketika jaringan air kota berada di bawah tekanan.
Masalahnya sekarang bukan hanya bagaimana memanfaatkannya.
Bagaimana menghidupkan kembali yang mulai mati?
Ketika sungai mengering, krisis merambat
Dampak kekeringan sungai tidak berhenti di badan sungai.
Rantainya jelas:
air permukaan berkurang → tanah kehilangan kelembapan → vegetasi semakin kering → lahan lebih rentan terbakar → sumber air untuk pemadaman ikut berkurang.
Ketika api muncul, persoalannya menjadi berlapis. Sumber air yang dekat semakin sedikit, sementara kebutuhan air untuk pemadaman justru meningkat.
Bagi warga yang memanfaatkan sungai untuk pertanian dan MCK, debit yang menyusut juga berarti berkurangnya sumber air alternatif.
Karena itu, sungai yang mengering bukan sekadar kehilangan air. Kota kehilangan salah satu lapis pertahanannya.
Sungai sebagai cadangan kota
Sungai yang masih memiliki air dapat dipetakan sebagai sumber air darurat untuk penanganan kebakaran. Titik pengambilan air, kedalaman, debit, kualitas air dan akses kendaraan pemadam perlu diketahui sebelum krisis terjadi.
Sungai yang kritis harus ditelusuri penyebabnya, sedimentasi, penyempitan, terputusnya konektivitas, perubahan tata guna lahan atau berkurangnya pasokan dari kawasan tangkapan air.
Di kawasan yang memungkinkan, embung dan kolam tampungan dapat dihubungkan dengan jaringan sungai agar air hujan tidak langsung hilang sebagai limpasan, tetapi dapat menjadi cadangan saat kemarau.
Namun sungai tidak akan pulih jika hulunya terus kehilangan kemampuan menyimpan air.
Maka pemulihan sungai harus berjalan bersama perlindungan sempadan, daerah tangkapan air dan konektivitas aliran.
Jangan menunggu sungai benar-benar mati
Di sinilah cara kita memandang pembangunan perlu dibalik.

Muka air di sekitar Jembatan Muang–Bendungan Benanga surut. Air tampak menghitam dan beraroma menyengat, diduga akibat akumulasi limbah usaha tahu rumahan yang tidak tersapu optimal karena debit air menurun. Foto diambil Rabu, 16 September 2026. Foto : Kis
Kita sering terpukau pada proyek besar waduk, bendungan, jaringan air baku. Tetapi ketika krisis datang, saluran kecil dan anak sungai justru bisa menjadi penyangga terakhir di tingkat lingkungan.
Status tanggap darurat penting, tetapi surat keputusan tidak akan menaikkan muka air waduk. Sungai tidak mengenal status. Ia mengenal hujan, hulu, tata ruang, sedimentasi dan bagaimana manusia menjaganya.
Begitu pula modifikasi cuaca. Teknologi dapat membantu menghadirkan hujan, tetapi air hujan tetap membutuhkan tempat untuk disimpan dan jalur untuk mengalir.
Karena itu,
air harus disimpan ketika tersedia. Sungai harus dijaga ketika masih mengalir. Dan sumber air darurat harus disiapkan sebelum api datang.
27 sungai, 27 peluang
Saya tidak melihat 27 sungai itu sekadar daftar nama.
Saya melihatnya sebagai 27 peluang untuk memperkuat ketahanan air Samarinda.

Tampilan muka air Sungai Karang Mumus dari atas Jembatan Jalan Lempake–Tepian menuju Bengkuring, Samarinda, Rabu (16/9/2026) pukul 12.15 WITA.
Peluangnya memang tidak sama. Ada sungai yang masih hidup, ada yang kritis, ada yang sudah mengering. Tetapi semuanya perlu diketahui kondisinya, dipetakan, dipulihkan sesuai kebutuhannya dan dikelola sebagai satu jaringan.
Sungai yang masih memiliki air dapat dilengkapi titik pengambilan air darurat. Sungai yang mengering perlu dicari penyebabnya. Kawasan hulunya harus dilindungi. Sedimentasi dan penyumbatan perlu ditangani. Dan setiap sungai perlu memiliki data kondisi serta rencana pemeliharaan yang jelas.
Dengan begitu, 27 sungai tidak berhenti sebagai daftar. Ia menjadi peta ketahanan air kota.
Sebab dalam situasi ekstrem, kita tidak bisa lagi berpikir bahwa hanya sungai besar yang penting.
Sungai besar memberi arah. Sungai kecil menjaga kehidupan di tingkat paling dekat dengan warga.
Pertanyaan yang saya bawa pulang dari lapangan kemarin sederhana:
Jika 27 sungai itu dapat menjadi bagian dari pertahanan kota menghadapi kekeringan dan karhutla, mengapa perhatian dan anggaran sering datang setelah sungainya kritis, bukan sebelum ia mati?
Kopi saya di Kantin Pak Usman sudah dingin. Kopi manis tinggal ampas. Rokok kretek Juara tinggal puntung.
Tetapi pertanyaan itu, saya kira, belum selesai.
Jaga semangat. Salam Rabu yang setia memanas.