Home OpiniBenanga Mengering, Samarinda Harus Takut Kekurangan Air

Benanga Mengering, Samarinda Harus Takut Kekurangan Air

by Redaksi
0 comments

Catatan dari Tepian Benanga di Tengah Kemarau yang Diperpanjang El Nino
Samarinda, 15 September 2026

Oleh: Kismanto Sastroamidjojo

Saya baru saja pulang dari lapangan. Sepatu masih berdebu, bukan berlumpur.

Kelihatannya sepele. Tetapi bagi saya, debu di sepatu pagi itu justru seperti kabar buruk.

Sebab, sejak pukul 08.00 WITA hingga menjelang tengah hari, saya berada di sekitar Bendungan Benanga dan menyusuri aliran Sungai Karang Mumus hingga kawasan Jalan Usaha Tani Betapus, dekat Perumahan Bengkuring.

Kondisi Bendungan Benanga yang mengalami penyusutan debit air di tengah kemarau berkepanjangan di Samarinda, Selasa (15/9/2026). Sejumlah bagian dasar bendungan mulai terlihat dan ditumbuhi rumput. Foto: Kismanto Sastroamidjojo.

Yang saya temukan bukan tanah becek.

Dasar waduk justru mulai terlihat. Rumput liar tumbuh di bagian yang semestinya menjadi tempat air berkumpul. Ganggang dan eceng gondok ikut mengambil ruang.

Saya kemudian duduk di sebuah warung kopi kecil di sekitar Bendungan Benanga. Segelas kopi manis menemani pikiran yang mulai berputar ke mana-mana.

Saya teringat satu ironi sederhana, kita sering kali lebih siap menghadapi bencana yang sudah terjadi daripada menghadapi bencana yang sedang tumbuh di depan mata.

Benanga, Jantung Air Samarinda

Bagi Samarinda, Bendungan Benanga bukan sekadar bangunan pengendali air.

Ia adalah salah satu bagian penting dari sistem tata air kota.

Di bawahnya mengalir Sungai Karang Mumus, sungai yang membelah Samarinda dan menjadi bagian penting dari perjalanan air dari kawasan hulu menuju kota.

Bendungan Benanga dibangun sejak era 1970-an, antara lain untuk mendukung kebutuhan irigasi kawasan pertanian transmigrasi Lempake Jaya.

Namun fungsi itu kemudian berkembang.

Benanga menjadi bagian dari sistem pengelolaan air yang menghadapi dua persoalan sekaligus: banjir ketika hujan berlebihan dan kekurangan air ketika kemarau berkepanjangan.

Mirip pegawai yang awalnya hanya diminta mengerjakan satu pekerjaan, tetapi kemudian diberi tanggung jawab menyelesaikan lima persoalan sekaligus.
Tanggung jawabnya bertambah.

Pertanyaannya, apakah kapasitas dan dukungannya juga bertambah?

Luka Lama yang Belum Selesai

Samarinda sebenarnya sudah berkali-kali diberi peringatan.
Pada 1998, hujan ekstrem di kawasan hulu pernah menyebabkan tanggul Bendungan Benanga jebol. Dampaknya luar biasa. Air mengalir deras menuju Sungai Karang Mumus yang ketika itu menghadapi persoalan penyempitan dan pendangkalan.

Kota lumpuh.

Banjir besar kembali menjadi cerita yang berulang pada tahun-tahun berikutnya, termasuk 2019 dan 2025.

Sementara itu, sedimentasi menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap kecil.

Kapasitas tampung yang semakin berkurang membuat bendungan lebih cepat penuh ketika hujan datang.

Tetapi ada ironi lain.
Ketika kemarau panjang tiba, bendungan juga lebih cepat kehilangan cadangan air.

Saat hujan, kita takut Benanga tidak mampu menampung air. Saat kemarau, kita takut Benanga tidak punya cukup air. Dua wajah bencana, satu sistem.

Kondisi Bendungan Benanga yang mengalami penyusutan debit air di tengah kemarau berkepanjangan di Samarinda, Selasa (15/9/2026). Sejumlah bagian dasar bendungan mulai terlihat dan ditumbuhi rumput. Foto: Kismanto Sastroamidjojo.

Kini, Dasar Waduk Mulai Terlihat

Kemarau berkepanjangan yang terjadi saat pengaruh El Nino terasa menjadi persoalan tersendiri.

Muka air Bendungan Benanga turun. Dasar waduk mulai terlihat.

Rumput dan tumbuhan air tumbuh di sejumlah bagian. Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang hanya lewat.

Tetapi bagi kota yang membutuhkan cadangan air, pemandangan tersebut seharusnya menjadi alarm.

Sebab ketika cadangan air terus menurun, pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar kapan hujan turun.

Pertanyaannya, berapa lama cadangan air mampu bertahan?

Dan yang lebih penting, bagaimana kebutuhan air warga dipenuhi jika kemarau berlangsung lebih panjang?

Banjir dan Kekeringan, Dua Sisi Masalah yang Sama

Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Banjir dan kekeringan sering diperlakukan sebagai dua persoalan berbeda.

Padahal, keduanya bisa berhubungan dengan persoalan yang sama: kondisi kawasan hulu dan tata kelola daerah aliran sungai.

Alih fungsi lahan, aktivitas pertambangan, perkebunan, pembangunan permukiman, pembukaan lahan, hingga bangunan di sekitar bantaran sungai dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem hidrologi jika tidak dikendalikan dengan baik.

Ketika tutupan lahan berkurang, erosi meningkat.

Material tanah kemudian terbawa aliran air dan berpotensi masuk ke badan sungai maupun waduk. Sedimentasi meningkat. Kapasitas tampung berkurang.
Akibatnya, saat hujan deras datang, air lebih cepat memenuhi tampungan.

Sebaliknya, ketika kemarau panjang tiba, cadangan air yang tersedia juga lebih terbatas. Ibarat ember yang kapasitasnya terus mengecil.
Ketika hujan, cepat penuh.
Ketika kemarau, cepat kosong.
Logikanya sederhana.
Pertanyaannya justru menjadi rumit, mengapa penanganan persoalan air sering lebih banyak berkutat pada proyek fisik di hilir, sementara persoalan tata kelola kawasan hulu belum sepenuhnya selesai?

Kondisi Bendungan Benanga yang mengalami penyusutan debit air di tengah kemarau berkepanjangan di Samarinda, Selasa (15/9/2026). Sejumlah bagian dasar bendungan mulai terlihat dan ditumbuhi rumput. Foto: Kismanto Sastroamidjojo.

Ketika Air Harus Dibagi

Persoalan semakin menarik ketika kita melihat bagaimana air yang tersedia harus dibagi.

Berdasarkan catatan yang saya peroleh di lapangan, dalam kondisi normal debit keluaran Bendungan Benanga berada di kisaran 0,40 meter kubik per detik.

Dari jumlah tersebut, sekitar 0,160 meter kubik per detik diprioritaskan untuk kebutuhan air baku Perumdam Tirta Kencana. Sementara sekitar 0,238 meter kubik per detik dialirkan ke hilir untuk kebutuhan irigasi.

Di atas kertas, pembagiannya terlihat jelas.

Tetapi angka-angka itu berlaku dalam kondisi normal.

Bagaimana ketika kemarau panjang membuat volume air turun drastis?

Di sinilah persoalan teknis berubah menjadi persoalan kebijakan.

Mana yang harus diprioritaskan ketika air semakin sedikit?

Sawah yang membutuhkan air untuk mempertahankan produksi?

Atau rumah-rumah warga Bengkuring, Sempaja dan kawasan sekitarnya yang membutuhkan air untuk memasak, mandi, mencuci dan memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Ini bukan lagi sekadar soal matematika.

Ini soal prioritas pelayanan publik.

Sebab bagi warga, air bukan angka dalam laporan.

Air adalah keran yang harus mengalir.

Ketika Warga Menjadi “Manajer Krisis”

Ketika menyusuri kawasan Muang Dalam hingga Muang Ilir, ada pemandangan lain yang justru lebih membekas.

Warga sudah terbiasa menghadapi ketidakpastian air.

Mereka menyiapkan tandon.

Menyimpan air dalam ember.

Mengatur waktu mandi.

Menyesuaikan aktivitas rumah tangga dengan jadwal air mengalir.

Mereka menciptakan sistem bertahan hidup sendiri.

Di sinilah ironi pelayanan publik terasa.

Ketika pemerintah berbicara tentang perencanaan, program, anggaran dan koordinasi, warga sudah lebih dulu menyusun strategi bertahan hidup di rumah masing-masing.

Kalau ada gelar profesor untuk ilmu bertahan hidup menghadapi krisis air, mungkin ibu-ibu di Muang Dalam dan Muang Ilir layak mendapatkannya.

Mereka tidak punya ruang rapat.

Tidak punya nomenklatur anggaran.

Tetapi mereka tahu persis kapan air harus ditampung.

Bukan Berarti Semua Pekerjaan Pemerintah Sia-sia

Tentu bukan berarti seluruh pekerjaan pemerintah sia-sia.

Normalisasi sungai ada.

Pengerukan dilakukan.

Infrastruktur pengendali banjir dibangun.

Sheet pile berdiri di sejumlah titik.

Semua itu nyata.

Yang perlu dipertanyakan adalah apakah langkah tersebut sudah bergerak secepat perubahan masalah yang dihadapi warga.

Pemerintah bekerja dengan kalender RPJMD, program tahunan, penganggaran, lelang dan tahapan administrasi.

Sementara warga bekerja dengan kalender yang jauh lebih sederhana:

Hari ini harus masak.
Hari ini harus mandi.
Hari ini harus ada air.

Di sinilah sering terjadi jarak.

Pemerintah berbicara dalam ukuran tahun.

Warga berbicara dalam ukuran jam.

Kita Tidak Bisa Selamanya Menunggu Proyek

Persoalan Bendungan Benanga dan Sungai Karang Mumus sesungguhnya merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar.

Perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi dan meningkatkan tekanan terhadap wilayah yang rentan terhadap kekeringan maupun banjir.

El Nino bukan persoalan yang muncul tanpa tanda.

Karena itu, mitigasi seharusnya tidak hanya dilakukan ketika dampaknya sudah terasa.

Tetapi jauh sebelumnya.

Namun kita juga tidak bisa menjadikan perubahan iklim sebagai kambing hitam untuk semua persoalan.

Ada pekerjaan rumah yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Bagaimana kawasan hulu dikelola?

Bagaimana pembukaan lahan dikendalikan?

Bagaimana aktivitas pertambangan dan perkebunan diawasi?

Bagaimana pembangunan perumahan diarahkan agar tidak memperburuk sistem tata air?

Bagaimana bantaran sungai dijaga?

Dan yang paling penting: siapa yang memastikan semua aturan itu benar-benar berjalan di lapangan?

Sebelum Menyesal di Hilir, Jaga Hulu

Kopi saya sudah dingin ketika catatan ini selesai ditulis.

Matahari semakin terik.

Debu di jalan menuju Usaha Tani Betapus semakin menempel di sepatu.

Saya pulang membawa satu pertanyaan.

Sederhana saja.

Apakah kita akan terus menjalani siklus yang sama: banjir ketika hujan, kekeringan ketika kemarau, lalu kembali menunggu proyek berikutnya?

Atau kita mulai memutus lingkaran itu dari sumber persoalannya?

Mungkin jawabannya bukan hanya membangun lebih banyak infrastruktur di hilir.

Mungkin kita harus mulai berani melihat ke hulu.

Sebab air yang sampai ke kota ditentukan oleh apa yang terjadi jauh sebelum ia masuk ke keran rumah warga.

Menjaga hilir tanpa membenahi hulu hanya membuat kita sibuk mengobati gejala.

Dan mungkin, sebelum Bendungan Benanga benar-benar kehilangan cadangan air dan Sungai Karang Mumus kembali menghadapi persoalan yang sama, kita perlu bertanya lebih keras:

Kapan kita mulai menjaga air, sebelum akhirnya kita hanya sibuk mencari air?

Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya orang yang kebetulan turun ke lapangan, melihat, mencatat, lalu ikut merasa gerah bersama warga Samarinda.

Tetapi dari dasar waduk yang mulai terlihat itu, ada pesan yang rasanya terlalu jelas untuk diabaikan:

Jangan tunggu air habis untuk menyadari betapa berharganya air.(*)

You may also like