Banten, VivaNusantara – Deretan kain tenun bergantungan rapi di sebuah workshop sederhana di wilayah Baduy Luar. Warna putih, biru tua, dan hitam mendominasi ruang tenang, bersahaja, tanpa hiasan berlebih. Setiap helai kain tampak diam, namun sesungguhnya menyimpan cerita tentang waktu, kesabaran, dan tangan-tangan yang setia merawat tradisi.
Siang itu, Jumat (16/1/2026), Odah duduk bersila di depan alat tenun, tubuhnya tegak, tangannya cekatan menarik dan menyusun benang demi benang. Wajahnya teduh, parasnya cantik alami dengan kulit putih bersih yang kontras dengan kain gelap yang sedang dirajutnya. Usianya masih muda, 21 tahun, namun geraknya menyimpan ketenangan orang-orang yang telah lama berdamai dengan waktu.
Odah adalah salah satu penenun muda. Profesi yang diwariskan, bukan dipilih. Ia tumbuh di lingkungan yang kuat memegang adat, sekaligus dekat dengan urusan kemasyarakatan. Odah adalah putri dari Jaro Oom, kepala desa yang menjadi penghubung masyarakat Baduy dengan pemerintahan. Dari ayahnya, Odah mengenal dunia luar dan perubahan zaman. Dari ibunya, ia belajar tentang benang, kesabaran, dan cara hidup yang bersahaja.

Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia ( FJPI) Kaltim, Tri Wahyuni berfoto bersama ibu Odah (kiri) dan Odah (kanan), saat mengikuti Kemah Budaya PWI Pusat 2026 dalam rangka Hari Pers Nasional 2026. Foto : Tri Ambarwati
Sejak kecil, ia akrab dengan kapas dan cerita-cerita lama yang diselipkan ibunya di sela-sela menenun. Bagi Odah, menenun bukan sekadar keterampilan rumah tangga, melainkan jalan hidup, cara perempuan Baduy menjaga adat dan menautkan masa lalu dengan masa depan.
“Kalau menenun tidak boleh tergesa-gesa, dan sudah saya pelajari sejak usia lima tahun,” kata Odah pelan, tanpa menghentikan pekerjaannya.
Tenun Baduy dikenal sederhana, warna putih, biru tua, hitam, warna alam yang tidak dibuat untuk menarik perhatian. Namun justru di sanalah kekuatannya. Setiap helai kain memuat prinsip hidup masyarakat Baduy, jujur, lurus, dan tidak berlebih. Kain-kain itu bukan dibuat untuk mengejar pasar atau tren, melainkan untuk menjaga martabat dan keseimbangan hidup.
Di banyak daerah lain, tradisi tenun justru berjalan di jalur yang berbeda. Di Bali dan sejumlah wilayah Nusantara, kain tenun kerap berhadapan dengan pariwisata massal dan industri cepat. Keindahannya tetap dipuji, tetapi generasi penerusnya kian berkurang. Tenun perlahan berubah menjadi produk, bukan lagi praktik hidup. Di titik inilah banyak tradisi mulai rapuh.
Baduy memilih jalan sebaliknya. Di sini, tenun tidak terancam. Regenerasinya berlangsung alami karena adat mengaturnya dengan tegas namun hidup. Menenun adalah bagian dari keseharian, bukan pilihan musiman. Tidak perlu program pelestarian atau kampanye budaya, cukup kepatuhan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Proses menenun sendiri memakan waktu berminggu-minggu. Mulai dari memintal benang, menyusun lungsin, hingga akhirnya kain selesai. Semua dilakukan manual, tanpa mesin, tanpa listrik. Ketekunan menjadi kunci. Kesalahan kecil bisa berarti mengulang dari awal. Tetapi Odah tak pernah mengeluh. Baginya, mengulang adalah bagian dari belajar menerima nilai yang juga diajarkan adat Baduy.
Sebagai penenun muda, Odah hidup di persimpangan zaman. Dengan latar keluarga yang bersentuhan langsung dengan pemerintahan, ia mengenal dunia luar dan perubahan yang menyertainya. Namun ia memilih tetap duduk di depan alat tenunnya. Menjaga tradisi, baginya, bukan menolak masa depan, melainkan memastikan akar tidak tercabut ketika zaman bergerak cepat.

Sekretaris FJPI pusat, Tri Awbarwati, sedang memilih syal salah satu kerajinan tenun khas suku Baduy.Foto : Tri Wahyuni
“Kalau kami berhenti menenun, nanti siapa yang ingat cara hidup kami?” ujarnya lirih.
Bagi perempuan Baduy seperti Odah, tenun adalah identitas. Dari kain yang dikenakan sehari-hari hingga yang dipakai dalam ritual adat, semuanya lahir dari tangan perempuan.
Mereka adalah penjaga yang bekerja dalam diam, tetapi memastikan adat tetap memiliki wajah dan arah.
Saat matahari meninggi, Odah berhenti sejenak. Kain setengah jadi terlipat rapi. Ia tersenyum tipis, senyum seseorang yang tahu bahwa apa yang ia kerjakan hari ini mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar, ingatan, nilai, dan keberlanjutan hidup.
Di tangan Odah, benang-benang itu bukan hanya kain. Ia adalah waktu yang dirajut perlahan, agar tradisi Baduy tetap hidup, tenang, teguh, dan bersahaja, di tengah dunia yang terus berlari.
Penulis : Tri Wahyuni
Editor : Tri Wahyuni