Home FeatureMenanam Masa Depan di Samboja bersama Jejak Komunitas Pemuda

Menanam Masa Depan di Samboja bersama Jejak Komunitas Pemuda

by Redaksi
0 comments

Samboja, Vivanusantara – Embun pagi belum sepenuhnya mengangkat diri dari permukaan tanah, ketika sekelompok pemuda berkumpul di lahan Kelompok Tani Terpadu Berkat Al-Arsyadi. Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WITA, tetapi sinar matahari mulai terasa hangat, menyusup di sela pepohonan dan wajah-wajah muda yang bersiap menanam.

Di antara cangkul, deretan bibit sawo, jambu, alpukat dan tawa ringan anak-anak muda, terhampar satu benang merah. Harapan akan lahan hijau yang kelak rindang sekaligus bernilai ekonomi. Di tempat inilah Komunitas Jelantah dan Pilah Berdaya memulai babak barunya.

Komunitas yang selama ini dikenal lewat aksi pengumpulan jelantah dan edukasi pemilahan sampah itu kini memilih langkah berbeda. Mereka memilih menanam masa depan. Bersama kelompok tani serta 50 pemuda, mereka tidak hanya turun menanam, tetapi juga belajar membaca karakter tanah, memahami ritme tumbuh tanaman, dan membayangkan masa panen yang masih jauh di depan.

Sebagian peserta datang karena ajakan teman, sebagian lainnya karena rasa penasaran. Namun hampir semuanya pulang dengan pandangan baru bahwa menanam bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan komitmen menjaga dan merawat.

“Ternyata menanam itu bukan hanya soal memasukkan pohon ke tanah, tapi menjaga dan merawatnya,” ujar salah satu peserta sambil menyeka keringat, Selasa (25/11/2025).

Gagasan program ini lahir dari Syifa Nur Aini, pendiri Komunitas Jelantah dan Pilah Berdaya sekaligus delegasi Kalimantan Timur dalam Singapore Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP). Ia melihat banyak petani yang masih mengandalkan tanaman jangka pendek yang cepat panen tetapi tidak selalu menjamin pendapatan berkelanjutan.

Melalui program Penghijauan Berdaya, ia memperkenalkan sistem pertanian berlapis yang menggabungkan tanaman panen cepat dengan pohon buah produktif yang menjadi aset jangka panjang. Sawo, jambu kristal, jambu air, rambutan, patai dan alpukat menjadi bibit pilihan. Sebagian besar bibit disuplai dari Persemaian Permanen Mentawir oleh BPDAS Mahakam Berau, sementara bibit alpukat disediakan langsung oleh komunitas.

Tidak berhenti di tanaman produktif, 50 bibit pucuk merah ikut ditanam. Kelak warna daunnya yang bergradasi akan menjadi ornamen alami yang mempercantik lanskap, sekaligus membentuk batas hijau yang rapi. Sentuhan kecil ini pelan-pelan menyiapkan kawasan menuju potensi wisata petik buah sebagaimana yang berhasil tumbuh di berbagai daerah.

“Gerakan ini bukan sekadar penanaman pohon, tetapi penanaman nilai dan masa depan. Kami ingin ruang hijau yang produktif, menguatkan pendapatan petani, sekaligus membuka peluang wisata edukatif bagi masyarakat,” kata Syifa.

Respons positif datang dari para anggota Kelompok Tani Berkat Al-Arsyadi yang melihat program ini sebagai langkah maju menuju sistem pertanian yang bersanding dengan peluang wisata. Mereka membayangkan hari ketika masyarakat datang, memetik buah langsung dari pohonnya, belajar menanam, dan menjadikan kampung sebagai tujuan wisata edukatif.

“Kalau suatu hari orang bisa datang dan menikmati hasilnya langsung di sini, itu akan jadi berkah bagi kampung ini,” ungkap salah seorang petani.

Bagi Komunitas Jelantah, kegiatan ini bukan sekadar proyek singkat. Ini perluasan misi yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun dalam pengelolaan jelantah, pemilahan sampah plastik, dan edukasi lingkungan. Kini mereka menanam investasi ekologis yang bernilai ekonomi dan sosial. Bibit yang ditanam akan dipantau secara berkala, kolaborasi terus diperluas, dan kawasan akan diarahkan menjadi ruang wisata berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat yang ingin mengikuti perjalanan gerakan ini dapat mengaksesnya melalui Instagram @jelantahdanpilahberdaya.

Di Samboja, 550 bibit ditanam hari itu. Namun yang tumbuh bukan hanya pohon. Ada semangat, pengetahuan baru, dan harapan yang pelan-pelan mengakar. Dititipkan pada tanah, pada para pemuda, dan pada waktu yang akan merawatnya.

Penulis: Ain
Editor: Lisa

You may also like