Samarinda, VivaNusantara – Kepala SMA Islam Terpadu (SMAIT) Granada sekaligus pakar parenting dari Kalimantan Timur Abd. Wahab Syahrani, menegaskan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak kini bukan sekadar ideal, melainkan kebutuhan mendesak.
Menurut data nasional terbaru, sebanyak 15,9 juta anak di Indonesia diperkirakan tumbuh tanpa peran ayah yang optimal artinya anak-anak ini termasuk dalam kategori _fatherless_. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,4 juta anak tinggal dalam keluarga tanpa ayah sama sekali, sementara 11,5 juta anak lainnya hidup bersama ayah yang jam kerjanya melebihi 60 jam per minggu sehingga keterlibatan ayah dalam keseharian dan pengasuhan menjadi sangat terbatas.
Wahab menekankan, _“fatherless”_ tidak selalu berarti ayah biologis hilang bisa juga ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional dan pengasuhan. Menurutnya, anak membutuhkan kehadiran ayah sebagai figur teladan, sumber rasa aman, dan pembentuk karakter. Ia mengatakan, tanpa keterlibatan ayah, banyak anak kehilangan kompas moral, rasa tanggung jawab, dan identitas diri.
“Ayah bisa ada di rumah setiap hari, tapi kalau tidak ada komunikasi, tidak ada kedekatan, tidak pernah terlibat dalam pendidikan anak, itu tetap _fatherless_. Absen secara emosional sama bahayanya dengan absen secara fisik,” tegasnya dalam acara Seminar Parenting belum lama ini.
Fenomena _fatherless_ ini, lanjut Wahab, berpotensi besar memicu problem sosial seperti rendahnya kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi, prestasi akademik menurun, hingga rentan terhadap perilaku negatif. Sebuah kajian menyebut, ketidakhadiran peran ayah berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis dan sosial anak.
Wahab menyerukan agar ayah dan ibu bersama-sama menjalankan fungsi pengasuhan, ayah sebagai pemandu arah, ibu sebagai pendidik harian, bukan menyerahkan semua tanggung jawab ke ibu saja. Menurutnya, jika ayah sekadar menjadi pencari nafkah tanpa keterlibatan emosional dan pengasuhan, maka kondisi _fatherless_ akan terus meluas.
Ia mengajak masyarakat khususnya para orang tua menyadari bahwa menjadi ayah bukan sekadar memberi nafkah, tetapi hadir, mendampingi, mendidik, dan memberi kasih sayang serta contoh hidup. Karena bagi anak, sosok ayah bukan hanya masalah darah, tetapi teladan hidup dan fondasi karakter.
Penulis: Intan
Editor: Lisa