Samarinda, VivaNusantara – Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus mendorong peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya lewat pengembangan Sekolah Terpadu di kawasan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang.
Meski kerap diberi label sekolah unggulan, sekolah internasional, hingga sekolah model, namun Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, menegaskan esensi utamanya yaitu menghadirkan pendidikan bermutu yang inklusif dan menyenangkan bagi semua.
“Namanya kita sebut sekolah terpadu karena lokasinya dalam satu kawasan, mencakup SD, SMP, dan SMA. Jadi bukan soal istilah internasional atau unggulan semata. Fokus kami adalah kualitas,” ujar Asli, Rabu (25/6/2025).
Sekolah Terpadu yang telah dibangun saat inu menempati eks bangunan SMP Negeri 16 di Jalan Jakarta dan rencananya akan aktif menerima siswa mulai pertengahan Agustus 2025. Asli menyebut bahwa sekolah ini dirancang sebagai representasi dari visi Pemkot dalam menghadirkan lingkungan belajar yang ideal, tanpa membeda-bedakan latar belakang ekonomi siswa.
Berbeda dengan Sekolah Rakyat yang dikelola oleh Kemensos dan secara khusus ditujukan untuk anak-anak dari keluarga miskin, Sekolah Terpadu ini terbuka untuk semua.
“Tidak ada batasan ekonomi. Yang penting, kita ingin setiap anak mendapat pengalaman belajar yang berkualitas,”jelasnya.
Lebih lanjut, Asli menjelaskan bahwa nomenklatur Sekolah Terpadu bukan berarti satu lembaga, melainkan kolaborasi antarjenjang dalam satu kawasan. Secara administratif, nama resmi sekolah tetap mengikuti regulasi, seperti SDN 028 atau SMPN 16, namun dikelola dalam satu ekosistem terpadu agar program, sarana, dan budaya sekolah saling terintegrasi.
Dalam konteks luasnya perdebatan publik soal sekolah unggulan dan sekolah biasa, Asli meminta masyarakat tidak terlalu terpaku pada istilah-istilah yang kerap disematkan.
Menurutnya, penggunaan label unggulan atau internasional yang sering kali menimbulkan persepsi hierarki antar sekolah. Padahal, kata Asli, keberhasilan pendidikan bukan ditentukan dari label semata, melainkan dari bagaimana nilai dan karakter dibentuk di dalamnya.
Asli memastikan bahwa pihaknya terus mendorong semua sekolah agar meningkat secara bertahap, baik dari sisi infrastruktur maupun kualitas pembelajaran. Namun, keterbatasan anggaran membuat perlu adanya prioritas dan pengembangan bertahap.
“Kita buat role model dulu. Seiring waktu, semua akan kita dorong ke arah yang sama,” pungkasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa