Home DaerahKota SamarindaCakupan Imunisasi di Kaltim Baru 65 Persen, Kasus Campak di Samarinda Tembus 120

Cakupan Imunisasi di Kaltim Baru 65 Persen, Kasus Campak di Samarinda Tembus 120

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Cakupan imunisasi campak di Kalimantan Timur masih jauh dari target nasional. Di saat yang sama, kasus campak di Kota Samarinda justru menunjukkan tren peningkatan, menembus sekitar 120 kasus hingga pertengahan Maret 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Fit Nawati, mengungkapkan capaian imunisasi campak di Kaltim baru mencapai sekitar 65 persen, masih tertinggal dari target nasional sebesar 95 persen.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Fit Nawati. Foto : Istimewa

“Masih cukup jauh. Sekitar 30 persen anak belum terjangkau imunisasi,” ujarnya dalam sosialisasi kewaspadaan campak, Senin (16/3/2026).

Campak sendiri merupakan penyakit menular akibat virus yang penyebarannya sangat cepat, terutama pada anak-anak. Gejala umumnya meliputi demam, batuk, pilek, mata merah, hingga munculnya bercak merah pada kulit.

Fit menegaskan, kelompok paling rentan adalah bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi. Ia juga mengingatkan bahwa orang dewasa dapat menjadi sumber penularan, terutama jika kondisi kesehatannya kurang baik.

Untuk meningkatkan perlindungan, jadwal imunisasi campak kini diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD.

Namun, capaian di Kaltim masih belum merata—sekitar 62 persen pada usia 9 bulan dan 60 persen pada usia 18 bulan. Sementara cakupan pada anak kelas 1 SD sudah mencapai sekitar 92 persen.

Di sisi lain, kondisi di Samarinda menunjukkan peningkatan kasus yang cukup signifikan. Kepala Bidang P2P Dinkes Samarinda, Nata Siswanto, menyebut jumlah kasus campak saat ini mencapai sekitar 120 kasus, dengan mayoritas penderita merupakan balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

“Dalam satu kasus, campak bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang,” jelasnya, Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, masa penularan berlangsung sejak tujuh hari sebelum muncul ruam hingga tujuh hari setelahnya. Gejala awal umumnya berupa demam, ruam kulit, mata merah, serta batuk dan pilek.

Epidemiolog Dinkes Samarinda, Fatur Rahman, menyebut sebaran kasus hampir merata di seluruh kecamatan, dengan jumlah tertinggi di wilayah Loa Bakung dan Lok Bahu.

“Kasus terbanyak ada di Loa Bakung dan Lok Bahu,” katanya.

Meski demikian, ia menilai rendahnya cakupan imunisasi tidak sepenuhnya disebabkan minimnya partisipasi masyarakat. Beberapa anak diketahui melewatkan jadwal imunisasi karena kondisi kesehatan saat waktu vaksinasi.

Dinkes mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala campak.

“Tidak perlu panik, tapi tetap waspada,” tutupnya.(*)

Editor : TW

You may also like