Samarinda, VivaNusantara – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, mengungkapkan kabar duka bahwa dua jemaah haji asal Kaltim wafat saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Keduanya merupakan jemaah lanjut usia yang menghadapi kondisi kesehatan menurun akibat kelelahan dan penyakit bawaan.
Salah satunya dari Kutai Timur, atas nama Dendy Wahyu (60) dan dari Balikpapan atas nama Supriyanto (60). Kedua jemaah meninggal di Makkah usai menjalankan rangkaian ibadah haji. Kondisi fisik yang menurun serta kelelahan menjadi faktor utama yang memperparah penyakit yang sudah diderita sebelumnya.
“Mereka sudah melaksanakan haji, tapi kondisi tubuhnya memang lemah dan tidak sanggup menahan beban ibadah yang cukup berat,” jelasnya, dalam Media Gathering di Kantor Kanwil Kemenag Kaltim, Selasa (24/6/2025).
Abdul Khaliq menjelaskan bahwa hingga saat ini, baru kloter 4 dan 5 yang tiba kembali di tanah air. Kalimantan Timur, melalui Embarkasi Balikpapan, memberangkatkan total 16 kloter, termasuk jemaah dari Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.
“Masih banyak jemaah yang belum tiba. Kami terus memantau kondisi mereka, termasuk yang masih dirawat di rumah sakit di Arab Saudi,” ungkapnya.
Untuk menekan risiko kelelahan dan insiden kesehatan di tengah jutaan jemaah dunia, terdapat sejumlah skema inovatif. Salah satunya adalah sistem “Murur” yang diperuntukkan bagi jemaah lanjut usia atau yang uzur secara fisik. Jemaah lansia tetap di dalam bus saat melewati Muzdalifah, lalu langsung ke Mina tanpa turun di tengah malam. Untuk mengurangi kelelahan karena berjalan di kerumunan.
Selain itu, terdapat sistem “Tanazul”, yaitu pengaturan bagi jemaah yang tinggal dekat lokasi lontar jumrah, sehingga mereka tidak perlu menempuh perjalanan jauh yang bisa melelahkan.
Bagi jemaah yang sedang dirawat di rumah sakit, tersedia skema Safari Wukuf. Jemaah tetap difasilitasi untuk melaksanakan wukuf di Arafah secara simbolis dengan dibawa menggunakan kendaraan, sebelum kembali menjalani perawatan.
Semua sistem ini adalah bentuk ikhtiar agar seluruh jemaah bisa tetap mendapatkan nilai ibadah, walaupun tidak bisa melaksanakannya secara fisik penuh.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa