Samarinda, VivaNusantara – Di tengah banjir informasi cepat dan instan, ficer hadir sebagai ruang bagi jurnalisme untuk menyampaikan kisah secara mendalam. Dalam materi bertajuk “Ficer dan Foto Berkisah sebagai Kontranarasi”, Akademisi dan jurnalis senior Wily Pramudya menegaskan bahwa ficer bukan sekadar gaya penulisan, melainkan bentuk kesadaran untuk menggali makna di balik fakta.
“Ficer adalah napas panjang dalam jurnalisme, yang memberi tempat pada makna dan bukan hanya kejadian,” ungkap Wily dalam penyampaian materinya Rembuk Merah Putih yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, Selasa (4/6), di UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Rabu (4/6/2025).
Ficer atau feature merupakan karya jurnalistik non-berita yang menonjolkan sisi human interest, menggunakan gaya naratif dan deskriptif. Berbeda dari berita lurus (straight news), ficer menyuguhkan informasi secara lebih lentur, emosional, dan reflektif. Ia mampu menghadirkan kontranarasi, atau tandingan dari arus besar, dengan mengangkat suara-suara yang kerap tersisih dari pusat perhatian media.
Dalam proses pembuatannya, ficer menuntut observasi yang tajam, riset mendalam, dan kemampuan menulis yang puitis namun tetap faktual. Struktur penulisannya pun fleksibel: bisa dimulai dari kutipan, deskripsi suasana, hingga fragmen peristiwa yang kuat secara emosional.
Tak hanya teks, foto juga memegang peranan penting dalam ficer. Pria dengan nama asli Johannes De Britto Eka Pramudya itu menegaskan bahwa visual bukan sekadar pelengkap.
“Foto dalam ficer bukan hanya ilustrasi, tetapi bagian dari narasi itu sendiri. Ia menyuarakan hal-hal yang tak bisa ditulis,” pungkasnya.
Penulis: Intan
Editor: Lisa