Samarinda, VivaNusantara — Ancaman radikalisme bukan hanya persoalan keamanan, melainkan krisis karakter dan kesadaran kebangsaan yang pelan-pelan menggerus generasi muda.
Kasubdit Pengawasan BNPT RI, Suniah Setyowati, menegaskan bahwa radikalisme bukan isu jauh, melainkan fakta nyata yang pernah menimpa negeri ini secara langsung.
Ia menyinggung insiden Mapolsek Astanaanyar pada 7 Desember 2022 sebagai pengingat bahwa paham kekerasan masih hidup dalam bayang-bayang. Sehingga radikalisme dan terorisme adalah ancaman nyata, tidak sekadar menyerang fisik, tapi merusak akar kemerdekaan itu sendiri.
“Kita harus memperkuat pendidikan karakter agar generasi muda tidak sekadar jadi penonton,” tegasnya dalam kegiatan Rembuk Merah Putih yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, di UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Rabu (4/6/2025).
Suniah menekankan pentingnya membentuk generasi muda yang memahami nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas secara utuh. Rembuk Merah Putih, kata dia, adalah inisiatif berbasis cinta kepada Tuhan, sesama, dan lingkungan yang ditujukan untuk membendung narasi kekerasan dari akarnya.
Menariknya, pendekatan ini melibatkan pelajar, jurnalis kampus, hingga konten kreator—mereka yang saat ini memegang kunci pengaruh di ruang publik. FKPT tidak ingin pendekatan lama terus diulang, perlu ada partisipasi aktif dari anak muda yang paham cara berpikir publik digital, tahu bagaimana narasi dibentuk, dan mampu melawan ide-ide radikal dengan argumen, bukan amarah.
“Tahun 2023 kita mencatat tidak ada aksi teror besar. Tapi bukan berarti kita aman. Ratusan penangkapan tetap terjadi. Ini tanda bahwa kita belum selesai. Pencegahan harus dilakukan dari hulu, dari ruang kelas, dari kampus, dari media sosial,” ujar Suniah.
Dalam forum itu, bukan hanya narasi ancaman yang digulirkan. FKPT juga menanamkan optimisme bahwa Indonesia bisa bebas dari radikalisme jika pemuda diberi ruang tumbuh secara utuh, bukan hanya cerdas, tapi juga punya empati dan keberanian membela nilai toleransi.
Penulis: Intan
Editor: Lisa