Samarinda, VivaNusantara – Kesiapan fisik insinerator di Kota Samarinda terus dikebut dengan kecepatan berbeda di tiap lokasi. Salah satu unitnya di kawasan Air Hitam dengan progres yang paling signifikan, dengan rangka dan komponen utama mulai terpasang.
Di sisi lain, beberapa titik menghadapi kendala teknis. Dua insinerator yang semula ditempatkan di lokasi berbeda akhirnya dipusatkan di Jalan Nusyirwan Ismail akibat lahan alternatif yang berdekatan dengan SMPN 38 tidak memenuhi kajian.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso, menegaskan pemusatan dua unit ini merupakan langkah pragmatis agar pengerjaan tidak mandek terlalu lama. Sembari menunggu lokasi baru yang dinyatakan layak, DLH memilih mempercepat instalasi di titik yang sudah siap.
Untuk insinerator di Kelurahan Baqa, material bangunan mulai berdatangan. Ketersediaan akses logistik, ruang operator, dan cerobong menjadi prioritas agar proses instalasi tidak kembali melambat.
Suwarso menargetkan seluruh unit terhubung ke sistem pengelolaan sampah kota pada akhir Desember 2025. Seluruh camat pun diminta memastikan ketersediaan lahan, fasilitas pendukung, dan kesiapan SDM.
“Agar kami dapat memastikan mesin yang selesai dirakit bisa langsung difungsikan tanpa jeda,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).
Pada awal 2026, pemerintah berambisi menghadirkan perubahan besar dalam pola penanganan sampah, mulai dari pengurangan beban TPA hingga efisiensi pengangkutan.
“Jika semua titik beroperasi stabil, volume sampah yang masuk TPA dapat ditekan signifikan, dan itu menjadi indikator bahwa strategi ini berjalan.
Di sisi lain, terkait dengan personel insinerator. Satu unit membutuhkan 8 personel, untuk beroperasi penuh selama 24 jam, lima di antaranya bertugas sebagai operator dan tiga lainnya menjadi penjaga keamanan di lapangan. Dengan total sepuluh unit yang akan difungsikan, berarti sedikitnya 80 tenaga baru harus direkrut dan dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat.
Agar kebutuhan tenaga benar-benar sesuai kondisi lapangan, tahap awal seleksi diserahkan kepada para camat. Mereka diminta memetakan kandidat yang memiliki kesiapan fisik dan mental untuk bekerja di lingkungan berisiko tinggi seperti area pembakaran sampah.
Usai seleksi administratif dan wawancara dasar, peserta terpilih akan masuk ke pelatihan intensif selama sepekan. Materi yang disiapkan mencakup dasar mekanisme pembakaran, alur kerja mesin, pengaturan temperatur, prosedur keselamatan, hingga simulasi operasional dalam skenario darurat.
“Mereka harus memahami mesin secara menyeluruh, dari persiapan sampah, dinamika suhu, sampai penanganan gangguan mendadak. Seluruh proses seleksi harus mulai berjalan pada November, Desember kita ke kesiapan operasional,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa